“Brooommm. .” Deru suara mobil minivan ini melaju menyusuri jalan yang padat.
“Pelan, pelan saja nak, kenapa harus buru-buru?” Ibunya mengeluh, entah ini sudah yang keberapa kalinya.
“Mau bagaimana lagi bu? Meja kita sudah dipesan
buat jam setengah delapan. Nanti kalau diambil orang bagaimana?”
balasnya sambil terus memandang kearah jalan.
“Mana mungkin mereka mau mengambil meja kita. Kan
sudah kaupanjar nak. Lagian, yang tadi mandinya telat siapa coba? Kamu
itu ya bla. . bla. . bla.. bla. . bla. .” Entah apalagi yang telah
dikatakan oleh ibunya, akupun tak bisa mengingatnya.
Dan dia terus duduk menghadap kearah jendela mobil
sembari tersenyum. Entah apa yang ada dipikirannya. Mungkin sebenarnya
dia tahu bahwa meja kami tidak akan diambil orang. Tapi dasar dia yang
selalu saja mencari alasan supaya bisa mengemudi dengan kecepatan
tinggi. Atau dia memang sama seperti aku, yang memang senang sekali
menggoda wanita yang ada di kursi belakang mobil ini. Ah dalam banyak
hal kami memang mirip, walaupun dia sering menyangkal tentang hal ini.
“Kenapa tidak pelan-pelan saja bawa mobilnya nak?” Aku kemudian mengangkat bicara.
Dia tersenyum, kemudian setengah berkata “Karena
mungkin aku tidak akan bisa lagi membawa mobil seperti ini di tempat aku
nanti Ayah. Kau tahu, mungkin kalau mereka punya jalan yang diaspal
saja, itu sudah keajaiban sekali.”
Aku tertawa kecil. Sembari melihat kebelakang.
Kulihat ibunya tidak mendengarkan apa yang kami bicarakan. Dia lebih
sibuk melampiaskan kekesalannya melalui tombol-tombol qwerty yang ada di jemarinya.
“Ciiiiiittt. .” Tak lama berselang, mobil minivan ini telah tiba di tempat yang kami tuju.
“Kau tahu yah, sudah tidak layak lagi kau pakai mobil ini. Masa mobilmu sama jenisnya dengan mobil para bawahanmu?”
“Ya sudah, kalau begitu, kau saja yang mengganti ya nak kapan2” Canda ibunya
Dia tersenyum lagi, entah apa maksudnya. Kalau kata
para bijak di cina, senyum wanita bisa meruntuhkan negara. Maka senyum
misterius anakku bisa meruntuhkan alam semesta dengan segala rahasia
yang menyertainya.
“Ah sudahlah, kau tidak perlu merisaukan hal itu” Aku segera membalas. “Bukan karena kami tidak mampu, maka kami tidak membeli mobil baru. Ada prioritas lain yang lebih penting dari itu.”
Anakku tidak menjawab, dan kemudian melangkah masuk
kedalam tempat makan tersebut. Tak berselang lama setelah kami disambut
oleh seorang pelayan, yang kemudian membawa kami ke suatu meja di salah
satu sudut tempat makan tersebut, dan setelah kami duduk dan memesan
makanan dan minuman, yang tetap saja dilalui dengan keributan kecil
karena dia memesan minuman yang menurut ibunya belum pantas untuk
dipesannya. Akupun terdiam dan mulai memperhatikan sekeliling.
Rumah makan ini bisa dikatakan bagus dengan suasana
malam ini. Kursi dan meja putih yang mengkilap ini benar-benar nyaman
untuk diduduki. Dan lihatlah semua cara berpakaian dan berperilaku orang
yang sedang ada disini. Semuanya sangat rapi dan bergaya. Nampak bahwa
mereka semua berasal dari kelas sosial yang tinggi. Pelayan-pelayan yang
melayani juga semuanya benar-benar berkelas. Ini restoran yang mahal.
Entah berapa dana yang sudah dihabiskan anakku untuk membayar ini semua.
Kemudian, Setelah melalui pembicaraan panjang
tentang rencana-rencana kedepan yang sudah berpuluh-puluh kali diulang,
makanan kami pun akhirnya datang. Setelah mengucapkan doa dan syukur,
kami pun mulai mencicipi satu-satu hidangan yang disediakan.
Ditengah acara makan ini, tiba-tiba ia bertanya, “Menurut ayah, bagaimana dengan restoran ini?”
“Bagus” Kataku begitu saja sambil mengunyah daging yang ada dihadapanku.
Kali ini diam dan tidak berkata apa-apa. Mungkin
dia kesal akan sikapku yang selalu dingin dihadapannya. Tapi begitulah
seorang lelaki. Kuharap setelah dia besar, dan memiliki keluarga, dia
akan mengerti.
Setelah acara makan kami selesai, anakku kemudian berkata sambil menyeka mulutnya dengan serbet yang dikenakannya.
“Jadi kita mulai saja acara kita. Jadi begini ayah,
ibu. Dengan aku mengundang ayah dan ibu ke restoran ini, adalah sebagai
wujud penghormatanku atas apa yang ayah telah berikan kepadaku.”
“Tapi nak, bagaimana kau mampu membayar ini semua?” Ibunya akhirnya bersuara, seolah-olah ia mampu membaca pikiranku.
“Kenapa kalian mengkhawatirkan sekali hal itu” Nada bicaranya mulai meninggi.
“Tapi nak…”
Setelah menghela nafas, dia pun berkata kembali.
“Jadi begini. Aku sudah menabung sekian lama untuk
mempersiapkan ini semua. Aku rasa untuk perpisahanku dengan kalian kali
ini, aku ingin mempersiapkan yang terbaik buat kalian. Itu saja. Jadi
bagaimana urusan pembayaran, itu seharusnya bukan menjadi masalah”
Dan kami pun terdiam lagi. Diam mungkin sudah
menjadi bahasa sehari-hari di keluarga kami. Keluarga yang berisikan
orang-orang yang senang berpikir dan menyusun kata
sebelum mengutarakannya.
“Dan sekarang, jika ada sesuatu yang ingin kalian
sampaikan kepadaku, pada momen seperti ini sebelum nantinya aku memulai
perjalananku, katakanlah.”
Yah, ini memang seharusnya begitu. Memang akhirnya
acara makan ini akan menjadi isyarat perpisahan. Aku
berpandang-pandangan dengan Ibunya. Mengisyaratkan siapa yang harus
berbicara. Ibunya, yang memang masih menghargai budaya di adat kami,
walaupun kelihatannya dengan berat hati, mulai angkat bicara.
“Begitulah nak. Ibu sudah tidak mau menangis lagi
gara-gara ini. Ibu sudah berupaya untuk memaksamu tetap tinggal. Tapi
kau tetap kukuh dengan pendirianmu. Sepertinya sudah tidak akan ada lagi
artinya kita berdebat disini. Kau adalah anak laki-laki kami. Anak
satu-satunya kami. Tapi bagaimanapun kau adalah dirimu. Dan
memang iya, kau pasti tahu yang terbaik bagi dirimu. Kau sudah dewasa,
sudah mengerti apa yang baik dan yang buruk. Dan kami pun pasti akan
tetap berusaha mendukung apapun keputusanmu.”
Anakku tersenyum kembali. Tapi kali ini aku bisa menangkap arti senyumnya. Senyum yang melambangkan kelegaan. Sebuah penebusan akan rasa bersalah yang dialaminya terhadap kekecewaan kami. Kemudian setelah itupun dia berkata.
“Terima kasih bu. Itu adalah pernyataan yang
benar-benar membuatku senang. Akhirnya setelah sekian lama, kita tidak
perlu berdebat lagi dalam memutuskan suatu hal. Tapi aku rasa ada yang
hilang kalau tidak ada debat dengan ibu. Mungkin kedepannya, aku akan
mencari pendamping yang senang diajak berdebat, tanpa ada yang
seharusnya mengalah.”
Kami pun tertawa kecil. Dan disambung kembali dengan guyonan anakku.
“Setelah itu, kami akan menyelesaikannya di atas ranjang” katanya sambil mengedipkan mata.
Kami pun tertawa terbahak-bahak bersamaan
bersamaan. Ibunya melempar serbet yang dikenakannya kearahnya. Ahh. .
dia memang benar-benar mirip denganku, selalu bisa membuat suasana
setegang apapun menjadi cair.
Kami pun terdiam kembali. Dan tak lama, ibunya menyikut lenganku.
“Dan sekarang giliran ayah”
Yah ini memang giliranku. Aku mulai mengumpulkan
kalimat-kalimat apa yang semestinya kuucapkan. Aku mencoba menggali lagi
kenangan-kenangan yang telah kulalui bersamanya untuk kusertakan
bersama dengan ucapanku.
Tapi, kenapa tiba-tiba kenangan itu mulai memudar.
Berganti dengan kenyataan yang kuhadapi sekarang bahwa anakku
satu-satunya akan pergi untuk menggapai impian yang telah dipeliharanya
selama ini.
Dan tiba-tiba rasa sendu muncul dihatiku. Rasa
kesedihan mendalam bahwa aku akan kehilangan sosok yang telah kubesarkan
dengan sepenuh hati.
Ah tidak, aku tidak boleh menangis. Ini anakku,
yang dulu pernah kugendong sewaktu bayi dan selalu tertawa lebar tiap
kali aku melemparnya ke udara. Yang dulu memandikan aku dengan keceriaan
setelah kelelahan menyelimutiku di kantor. Yang pernah kukurung di
kamar mandi karena tidak mau menaatiku untuk belajar. Yang pernah
kutampar karena ketahuan merokok. Yang dengan bangga menceritakan
kemenangan yang diperolehnya dalam sebuah kompetisi. Dan ahh. .
kenangan-kenangan ini datang silih berganti begitu cepat. Seperti
kedipan-kedipan gambar yang terus menerus diproyeksikan oleh pemutar
film. Dan sekarang, film ini telah selesai dan akan segera diganti
dengan sebuah cerita baru. Cerita tanpa anakku didalamnya.
Ya Tuhan, aku berjanji aku tidak akan menangis.
Tapi ah, aku kalah, bahkan dengan wanita yang ada disebelahku ini.
Pelupuk mataku bagai menemukan sebuah mata air di sudutnya. Astaga aku
kenapa? Aku ini laki-laki, seorang suami dan juga seorang ayah. Tapi air
mata ini tetap saja tidak mau berhenti dan terus mengalir lagi.
Ibunya mulai menyadarinya dan memegang lenganku.
Matanya juga berair karena melihatku seperti itu. Namun seperti biasa,
ia mencoba untuk bersikap kuat disaat aku sedang lemah. Dan anakku,
anakku terdiam melihat ayahnya yang selalu mengajarkannya untuk bersikap
layaknya seorang laki-laki, tidak mampu berkata apa-apa. Ekspresi
keterkejutan sarat terpampang di wajahnya.
Dan entah bisikan siapa yang menyuruhku melakukan
ini, tiba-tiba aku memeluknya. Dan sambil menangis kencang tersedu-sedu
terus memeluknya. Ah persetan dengan semua ini. Persetan dengan harga
diri. Persetan dengan orang-orang disekeliling yang memperhatikan kami.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukan hal ini. Tapi biarlah ini
membuktikan bahwa betapapun sikapku yang mungkin agak kaku dan dingin kepadanya, sebenar-benarnya aku amat amat sangat mengasihinya.
Lama aku memeluknya. Anakku kaku, mematung, karena
tindakanku yang pasti sangat mengejutkan baginya ini. Namun,
perlahan-lahan diapun mencair dan membalas pelukanku dengan hangat.
Suasana ini benar-benar khidmat dan tenang. Hening pun akan terdiam
melihat tingkah laku kami berdua. Dan waktu pun serasa terpaku, tatkala
sepasang ayah dan anak ini membuktikan bahwa mereka sangat bersyukur,
memiliki sosok masing-masing sebagai bagian dari syair hidupnya.
Perlahan-lahan akupun melepaskan pelukanku. Aku melihat ibunya, istri
yang selalu bersikap kuat untukku, sudah tidak sanggup lagi membendung
air mata yang terus mengalir di pipinya. Itu air mata bahagia dan
keharuan, melihat dua laki-laki yang amat dikasihinya tidak lagi menjaga
perasaannya masing-masing, demi sesuatu yang dinamakan harga diri.
Dan akupun memegang pundaknya dengan mantap.
Menatap jauh kedalam matanya dan berkata, “Apapun yang akan kau lakukan,
ingatlah ayah sangat amat bangga telah memiliki anak sepertimu. Do the
best my son. And may God always be with you” kataku, dengan diakhiri dengan sebuah senyuman yang tulus kepadanya.
Anakku terdiam cukup lama. Kemudian dia menatap
ibunya, yang juga sedang tersenyum kepadanya. Dan setelah itu dia
tertawa kecil, sambil menunduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kemudian dia menarik nafas panjang dan mengatakan
“Aku pernah dengar bahwa salah satu momen terindah
dalam hidup adalah ketika kamu melihat orang tuamu tersenyum dan
menyadari kamulah alasan dibaliknya. Dan saat ini aku sedang
mengalaminya. Terima kasih Ayah Ibu yang telah memberikanku kesempatan
untuk membuktikan hal itu” Katanya disertai dengan
senyuman bahagia, senyum yang dulu pernah kulihat ketika dia terbang di
udara oleh ayunanku dulu. Dan itulah senyum yang menandai akhir dari
malam yang indah ini. Malam sebagai penanda sebuah fase kehidupan lain,
yang telah berhasil kami lalui.