“Kamu mau kan nikah sama aku?” Aku meraih telapak tangannya dan mengelusnya. Tangannya sehalus selimut yang dapat mengusir gelisahku waktu aku kecil. Aku mempersiapkan diri untuk hal terburuk. Ini usahaku yang terakhir. Inilah maksudku memohon padanya untuk bertemu hari ini juga.
“Aku tak pernah berniat membuatmu sampai berpikir terlalu jauh seperti itu,” kata Diana. “Sungguh. Aku minta maaf.”
Aku hilang kata. Perlu waktu untuk merekatkan serpihan-serpihan kata di otak verbalku. “Kamu susah sekali kuhubungi. Aku sampai berpikir kamu tak mau melihat wajahku lagi.”
“Mungkin memang begitu,” kata Diana. Aku benci kata mungkin. Tak bisakah ia memberiku sebuah kepastian?
“Cinta itu layang-layang,” kataku. “Cuma ikatan yang bisa mempertahankannya di tengah deru embusan masalah.” Pandangan kami tertambat seabad. Aku menunggu persetujuannya atas pernyataanku tadi.
“Tak semua yang kamu pikirkan itu sesuai kenyataan,” kata Diana. Mungkin memang kelebihan Hari setara dengan kelebihanku sehingga aku dan pecundang itu masuk indifference Diana, menjadikannya substitusiku, membuatku tak istimewa lagi di matanya.
“Kamu lebih ingin bersama Hari ketimbang denganku?” Bagus. Kini aku menuduhnya. Logikaku yang tadinya lurus terarah membelok menuju asimtot, ketakberujungan yang penuh dengan ketakutanku akan kehilangannya.
“Aku sering kali memikirkannya.” Diana mendengus tertawa kemudian termangu lagi. Aku biasanya terdiam dan memandanginya ketika ia tertawa. Kemudian ia sadar lalu terdiam dan mencengkeram wajahku agar aku berhenti memandanginya. Sayang saat ini tidak. Aku rindu tawanya yang dulu, rindu kebiasaan remeh-temehnya saat tertawa.
“Kamu ingat kali pertama kita bertemu?” Aku berusaha melenturkan pembicaraan yang mulai sekaku interaksi wartawan dan narasumber ini, juga membangkitkan kenangan kami, menumbuhkan lagi perasaannya. Kamis 8 Maret 2007 pukul 14.09, aku sedang berlari-lari kecil di bagian perlengkapan mandi Hero. Aku berkeringat, terburu-buru dari kantor. Atasanku, Bu Yvone, menuntutku segera membeli parfum sebelum rapat dengan para pemegang saham yang dimulai sebentar lagi. Hidungnya yang sepeka penciuman anjing menganggapku kambing. Di kedua tanganku terdapat dua macam. Lantas Diana lewat. Aku sontak bertanya kepadanya yang mana yang lebih ampuh menutupi bau. Lalu ia memerhatikanku seperti pemindai bandara. Ia bilang aku butuh dua-duanya dan terdiam ketus kemudian tertawa, sambil meminta maaf bahwa yang barusan itu bercanda. Ketika aku membalas bahwa seharusnya aku mengambil karbol pembersih toilet saja, ia terbahak-bahak. Aku mulai suka cara tawanya itu. Menikmatinya sejenak. Gelombang suara tawanya membentur ruang hatiku yang sedang kosong, bergema di sana, terpantul-pantul tak habis-habisnya, sampai menggetarkan dinding-dindingnya. Ketika tersadar, aku buru-buru ke kasir, tetapi kembali lagi untuk menanyakan namanya dan berjanji untuk bertemu lagi di tempat dan waktu yang kami tentukan juga saat itu. Di situlah ketertarikan kami dimulai. “Itu cukup memalukan kalau dipikir-pikir.”
“Aku benar-benar sudah melupakannya.” Lima kata darinya tersebut sudah cukup bagiku untuk berasumsi bahwa inilah akhirnya. Tak perlu diungkit-ungkit lagi. Namun, aku butuh kejelasan. Aku butuh palang yang padat untuk bergantungan, bukan palang anggapan.
“Apa kesalahanku dulu memang sudah tak bisa dimaafkan lagi?” Memang aku mengingkari janjiku padanya, tetapi ia tak boleh bertingkah seakan aku selalu mengecewakannya, tak pernah membuatnya bahagia. Satu kesalahan dibiarkan begitu saja membakar semua perbuatan manisku. Aku berhak dianggap sebagai lelaki yang bisa menyenangkan hatinya di banyak kesempatan.
Diana tersenyum. Seperti sebuah pelangi terbalik. Aku takjub. Karya paling sempurna dari sang Pencipta. Tak ingin pelangi itu memudar. Namun, aku kembali bertanya-tanya. Ia tersenyum karena semua hal manis yang kulakukan atau karena ia yakin semuanya akan berakhir dengan cara baik-baik?
“Tersenyumlah sekali lagi. Aku ingin lihat.” Bukan, bukan hanya sekali. Aku ingin melihat senyuman itu sampai tak ada bintang yang bersinar di luar angkasa. Setiap pagi sebelum mentari menyundut. Setiap malam sebelum lelap menjebak.
“Itu tak berasal dari hatiku.” Wajahnya seperti permukaan air tenang, begitu datar, tak ada riak, tetapi dapat membuatku tenggelam dan kehabisan napas.
“Kau sulit sekali kuhubungi. Lama sekali kita tak bertemu.” Aku memang punya cinta tetap padanya, yang ukurannya takkan dapat diubah dengan kondisi apapun. Aku juga punya cinta variabel, yang sangat bergantung kepada sambutan hangatnya. Namun bila cinta variabel itu sudah nol, antibodiku pun bisa perlahan memunahkan cinta tetapku. Aku tak ingin sakit merugi, mencinta sendiri.
Diana menyejajarkan pupil matanya dengan pupilku. Matanya memancarkan jawaban berbentuk sandi-sandi cahaya yang tak kumengerti. Aku pun tak bisa mengartikan kurva-kurva yang membentuk ekspresi wajahnya.
“Aku menyesal pernah membuatmu kecewa sampai kamu seperti tak ingin melihatku lagi,” kataku. “Aku minta maaf lagi kalau kau masih kecewa padaku.” Permintaanku padanya hanya kepercayaan, tetapi ia habis persediaan. Maka takkan ada ekuilibrium yang akan mempertemukan harapan kami. Aku sadar harga diriku akan terus merosot seiring meningkatnya kuantitasku mengemis kepercayaan padanya, tetapi aku sudah hilang kendali atas logikaku sendiri.
Diana menarik napas, mengisi dadanya dengan kekuatan di angkasa dan mengembuskan kesesakannya. “Yang kutahu aku tak bisa membuangnya.”
“Ke mana cinta yang dulu kauumbar padaku?” Aku menebak-nebak dari hal kecil. Dari getaran pundaknya. Dari gerak bibirnya. Dari bola matanya yang gelisah. Sungguh aku lelah menerka.
Diana melemparkan pandangannya ke luar jendela. Ia lebih memilih memerhatikan kendaraan yang lalu lalang menebarkan polusi daripada mataku. Bibirnya terjahit benang-benang penjelasan yang kusut belum terurai.
“Aku siap ditebas dengan kata-katamu. Itu lebih baik daripada melihatmu bisu.” Keterdiamannya kahar,force majeur. Aku memang tak mungkin mencegahnya.
“Aku juga tak mengerti dengan perasaanku sendiri.” Ia terdiam. Cukup lama untuk membuatku yang hanya terpusat pada suaranya merasa tuli karena tak mendengar satu suara pun.
“Apa dari awal kamu memang hanya main-main?” Di kedai kopi pinggir jalan ini aku kembali mulai dari nol, kembali ke tempat yang sama ketika kami janji bertemu setelah perjumpaan pertama. Menarik garis kronologis mencari kemungkinan dari hal yang kuyakini sebagai ketidakmungkinan.
Aku masih ingat ketika Diana berjalan memunggungiku. Aku menghitung sampai seratus, tetapi ia tak kunjung menoleh. Saat ia di dalam taksi pun aku masih memandangi tengkuknya. Muncul rasa benciku pada bentuk bumi berupa bola. Di jalan yang begitu lurus ia mulai tenggelam di balik garis cakrawala. Diana tak pernah kembali, bahkan sekadar menghubungi.
Aku ingat betul penyebab semua ini. Urutan ceritanya terpahat di candi otakku menjadi penyesalan abadi. Empat bulan lalu aku mengundang Diana beserta orang tuanya makan malam. Orang tuaku pun sudah datang dari Bandung. Selain merayakan keberhasilanku dipromosikan menjadi manajer finansial, aku ingin melamarnya langsung ke orang tuanya. Namun sebelum aku berangkat, direktur memintaku mendampinginya menghadiri rapat mendadak dengan perusahaan yang menjadi mitra dalam proyek produk baru saat itu. Rapat itu sangat mendesak. Bahkan itu Sabtu sore. Direktur mengancam takkan segan memecatku bila aku menolak meskipun aku baru naik jabatan. Karier dan cinta saling menarik nyawaku, meletakkanku di ambang antara hidup tanpa jiwa atau hidup tanpa raga. Aku menjelaskan semuanya. Orang tuaku dan orang tua Diana memaklumi, kecuali Diana sendiri. Hubungan kami mulai retak. Ia tak pernah tahu aku hendak melamarnya. Datang pula Hari, lelaki tak tahu malu yang berusaha menyusuri labirin menuju hati Diana. Mereka mulai dekat sejak itu.
Aku menyerah. Semua sudah kulakukan untuk membuat Diana kembali padaku. Bila terus seperti ini, pengorbananku berupa perasaan, pikiran, waktu, tenaga, dan uang, investasiku, akan tergerus bunga ekspektasinya yang selangit. Nilai pengorbananku di masa depan pun bisa saja sudah dianggap tak berharga hari ini. Aku pikir-pikir lagi ucapan Robi.

“Mungkin ini konyol, tapi aku percaya. Kau mau semua ini berakhir seperti yang kau inginkan?” Robi menepuk pundakku. “Lihatlah koin dwicitraku. Memang idenya tak orisinal, tetapi ampuh untuk kujadikan pengingat. Coba perhatikan. Kalau kau melihat sisi koin begini, ukirannya seperti nenek yang merengut. Aku merasakan penyesalan dirinya yang tak pernah mengutarakan cinta pada lelaki idaman sampai lelaki itu meninggal. Tapi kalau kau memutar koin ini, ukiran tadi seperti putri yang tersenyum. Bibirmu takkan datar saja saat kau melihat putri ini. Putri yang berhasil mengutarakan cintanya sampai bisa mendapatkan lelaki impiannya mana mungkin bersedih. Putri ini saja bisa mengubah ceritanya. Kau mau juga? Maka ubahlah sudut pandangmu dalam memandangi masalah ini seperti kau memandangi koin ini. Memang tak mudah. Kau bisa mulai dengan mengubah kebiasaanmu. Bahkan hal-hal terlumrah. Mundurlah saat berjalan. Berdirilah saat tidur. Jongkoklah saat kencing. Kau yakin sanggup melakukan semua untuk membuat kisahmu berakhir bahagia? Ubahlah semua. Jungkir balikkan. Semua, Sandoro. Bahkan saat membaca yang biasanya dari paragraf teratas menuju paragraf terbawah, maka sekarang bacalah dari paragraf terbawah menuju paragraf teratas.” Ia memutar-mutarkan koinnya perlahan di garis penglihatanku, menampilkan sosok putri dan nenek bergantian terus-menerus. “Tentukanlah. Kau bisa memilih semua ini berakhir bahagia seperti yang kau inginkan atau berhenti sampai di sini saja.”