Tuesday, October 2, 2012

Tom

Hari ini Tom bangun lebih awal dari biasanya. Pukul enam lebih lima pagi dia sudah beranjak dari tempat tidurnya, dan dengan perlahan dia berjalan menuju ke balkon yang terletak di samping kamarnya.

Dia meregangkan kedua tangannya sambil menarik nafas dalam-dalam. Senyum di bibirnya merekah seiring dengan mentari yang muncul dari ujung cakrawala. Cahaya matahari pagi ini merembes melalui celah-celah embun yang belum sepenuhnya naik, membuat semacam pilar-pilar cahaya yang menyinari beberapa bagian balkon.

Setelah puas menikmati pagi, Tom masuk kembali ke dalam rumah. Dia kemudian berjalan menuju ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Ham & Egg bersama secangkir Robusta Coffee, tak ada yang lebih nikmat dari itu untuk dinikmati di pagi seperti ini.

Pukul tujuh lebih dua puluh dia telah selesai berpakaian. Hari ini Tom mengenakan pakaian terbaik yang dia miliki, satu setel jas berwarna hitam yang dipadukan dengan gesper dan dasi kupu-kupu merah yang dibelikan oleh Emma beberapa tahun yang lalu.

Sambil membetulkan posisi dasinya dengan tangan kanan, tangan kirinya menyemprotkan parfum ke beberapa titik di badannya. Setelah itu kedua tangannya mengusapkan minyak ke atas rambutnya yang sudah memutih, Tom menyisir rambutnya ke belakang agar terlihat lebih rapih. Terakhir dia mengambil tongkat jalannya yang menggantung di sudut kamar.

Tom segera mengambil tisu saat melihat ada noda tanah di ujung tongkatnya, dengan sekali usap dia mengenyahkan noda itu. Setelah memastikan bahwa penampilannya sempurna, Tom keluar dari dalam rumah.

Rumah Tom terletak di kaki bukit, dibatasi oleh hutan pinus di bagian selatan dan barat, serta sebuah danau kecil di sebelah utaranya. Untuk sampai ke pusat kota dia harus berjalan kaki sekitar dua puluh menit, atau jika sedang malas, dia bisa duduk manis di halte dan naik bus yang datang kesana setiap satu jam sekali.

Tom berhenti di depan rumah tetangganya sebentar karena seekor anak anjing tiba-tiba berlari keluar pada saat melihatnya. Tom kemudian membungkuk dan mengelus-elus kepala anak anjing itu, ekornya berayun dengan cepat.

“Pagi Tom.” Tetangganya membuka pintu depan.

“Pagi Will, anjingmu makin besar saja.”

“Yea, dia rakus sih.”

“Seperti pemiliknya eh?” Tom terkekeh.

William ikut tertawa.

“Kau mau mengunjungi Emma?”

Tom mengangguk. Tatapan mata William berubah jadi sedikit sendu.

“Aku titip salam untuknya Tom, oke?”

Tom mengangguk, dia menyuruh anak anjing itu pergi. Anjing itu kemudian menggonggong sekali, dan berlari kembali ke arah William.

Tom berjalan dengan di sisi kanan trotoar, mengikuti alur batu yang disusun dengan rapi dan indah di sepanjang jalanan menuju ke arah kota. Selama perjalanan dia beberapa kali melambaikan tangannya untuk menyapa penduduk kota yang baru saja pulang dari pasar. Mereka semua balik melambaikan tangan sambil mengucapkan selamat pagi.

Tom melangkahkan kakinya untuk belok kanan di perempatan, dia kemudian masuk ke dalam sebuah toko bunga kecil yang berada tepat di samping perempatan.

“Pagi Candice.” Dia menyapa seorang perempuan muda berambut cokelat yang sedang merapikan pot-pot yang berisi bunga warna-warni di atas rak.

“Aah, selamat pagi Tom! Tampan sekali kau hari ini.” Candice meletakan pot bunga yang sedang dia pegang di atas meja, dia kemudian menyalami Tom dan memeluknya.

“Hari ini istimewa love, Pesananku sudah tiba?” Tom bertanya sambil melihat-lihat isi toko.

“Tentu saja sudah. Sebentar, biar kuambilkan.” Candice berseri-seri, dia kemudian masuk ke ruang belakang. Beberapa detik kemudian dia kembali sambil membawa sebuah bouquet mawar yang sudah ditata dan dibungkus dengan sangat cantik.

“Lima puluh tangkai sesuai pesananmu, semuanya masih segar, aku sendiri yang memetiknya dari kebun. Emma pasti suka.” Candice menyerahkan bouquet itu dengan bangga.

“Ini.. sangat indah, terima kasih.” Tom mengambilnya dengan dua tangan, kedua matanya takjub melihat bunga-bunga tersebut.

“Hati-hati Tom, itu berat. Apa kau butuh bantuan untuk membawanya?”

“Biar kubawa sendiri.” Tom menggeleng.

“Sampaikan salamku untuk Emma ya, dia benar-benar wanita beruntung.”

“Pasti akan kusampaikan. Candice, aku titip tongkat jalanku disini ya?”

“Bagaimana dengan kakimu Tom?” Candice tampak khawatir.

“Tenang saja, lututku sudah lebih baik sekarang.” Tom tersenyum, dia kemudian keluar dari toko dan kembali berjalan. Langkahnya semakin pelan karena tanpa bantuan tongkat dan harus membawa bouquet mawar.

Sepuluh menit berlalu, sebentar lagi Tom akan tiba di tempat pertemuannya dengan Emma. Sesaat sebelum dia masuk ke tempat itu, seorang pria botak berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya, dia mengenakan sebuah setelan kemeja dan sebuah celemek putih. Tangan kanannya menggenggam sebuah bungkusan karton.

“Tom! Tom!” pria itu berteriak memanggil, membuat Tom berhenti berjalan.

“Kau rupanya, ada apa Fred?”

Fred kemudian menyerahkan bungkusan yang dibawanya kepada Tom.

“Apa ini?” Tom menerima bungkusan itu, dia kemudian mengintip ke dalam bungkusan.

“Wine.. untukmu dan Emma.”

“Ah, Dom Perignon, ini pasti mahal.”

“Bukankah hari ini spesial? Lagipula kalian layak mendapatkannya, sampaikan salamku untuknya ya. Bunganya cantik sekali.” Fred menjawab sambil berlari kembali ke arah tokonya di seberang jalan.

“Terima kasih!” Tom melambaikan tangannya, Fred membalasnya dengan acungan jempol.

Tom masuk ke sebuah area luas yang dipenuhi rumput pendek berwarna hijau. Dia melihat ke kanan dan kiri, mencari-cari. Terakhir kali mereka bertemu disini adalah setahun yang lalu. Tom berjalan beberapa meter, tiba-tiba dia melihat Emma tersenyum ke arahnya dari kejauhan. Tom balas tersenyum, kemudian bergegas menghampiri Emma.

Tom duduk di atas rumput.

“Hai Em, maaf aku terlambat. Sesuai janjiku dulu, ini aku bawakan bunga mawar kesukaanmu, lima puluh batang. Yah, walaupun tak sempat kuhitung satu persatu.” Dia meletakan bouquet mawar itu di hadapan Emma.

“Katanya Candice yang memetikan sendiri bunga itu, Kau masih ingat? ibunya yang dulu menyediakan bunga saat pernikahan Daisy, dia wanita yang baik. Sayang sekali sampai sekarang dia belum menikah ya? Ah, dia titip salam untukmu Em, William tetangga kita dan Fred pemilik bar dari seberang jalan juga menitipkan salam, Fred bahkan memberikan sebotol wine ini untuk kita.. Sebentar ya, biar kubukakan.”

Terdengar suara plop! Ketika botol wine itu dibuka. Tom menuangkan isinya pada gelas yang ternyata sudah disiapkan juga oleh Fred di dalam bungkusan itu. Dia kemudian meletakannya di hadapan Emma.

“Mereka semua rindu padamu Em, yah, aku juga begitu.” Tom tersipu malu.

“Omong-omong, kedua anak kita baik-baik saja Em, Kau tahu, Jeff dipromosikan menjadi Senior Manager minggu lalu, dia sedang bersiap-siap dipindahkan ke kantor baru, jadi mereka sekeluarga mungkin baru datang kesini nanti siang. Ah ya, si kecil Tiffany tahun ini masuk sekolah, aku sudah menyarankan agar dia sekolah disini saja, kau sendiri kan yang bilang kalau pendidikan di kota besar sekarang tidak bisa dipercaya? Aku juga takut dia akan terpengaruh banyak hal buruk dari lingkungannya, tapi Daisy tak mau dengar. Dia bilang fasilitas disana lebih bagus. Dia memang keras kepala, sangat mirip kamu Em.”

Tom berhenti berbicara untuk menuangkan wine bagi dirinya sendiri.

“Haruskah kita bersulang sekarang?” Tom bertanya, Emma tidak menjawab, tapi kedua matanya yang teduh tak berhenti memandangi Tom, begitupula senyumannya yang tak pernah berhenti terkembang.

“Astaga, senyummu memang sangat indah Em.. Oke, nanti saja kita bersulangnya, aku juga masih ingin bersama denganmu beberapa saat lagi.”

Tom kembali bercerita. Dia bercerita tentang apa saja, merangkum semua kejadian yang dilewatkan oleh Emma setahun ini.

Dia bercerita tentang hal-hal besar dan penting yang terjadi di kota, seperti terpilihnya walikota baru yang menurutnya masih terlalu muda dan bau kencur. Tentang meluapnya danau di bukit beberapa bulan yang lalu karena hujan besar dua hari berturut-turut. Dia juga menceritakan hal-hal kecil seperti tentang ilalang yang sepertinya tumbuh dengan terlalu cepat di halaman rumah mereka, tentang keinginannya memelihara anjing seperti William, tentang koloni lebah yang dia temukan di loteng rumah, dan hal-hal lainnya.

Lama kelamaan ceritanya berubah menjadi nostalgia. Dia kembali menceritakan hal-hal yang menjadi momen kenangan bagi mereka berdua, seperti saat keduanya berbulan madu di Galapagos, saat dirinya panik ketika kaki Jeff kecil bengkak karena disengat lebah, Isak tangisnya di malam Daisy menikah, dan hal-hal sentimentil lainnya.

“..Kami rindu padamu Em.. Jeff, Daisy, Timmy, dan si kecil Tiffany yang masih sering menanyakan tentang tentangmu. Apa kau memang tak bisa kembali pada kami semua Em?” mata Tom sedikit berkaca-kaca.

“Fred bilang perpisahan kita ini tak seharusnya terjadi. Kurasa dia benar, sampai sekarang aku tak tahu siapa yang harus disalahkan atas ini semua. Apa yang harus kulakukan Em? Apa yang bisa kulakukan untuk memperbaikinya?”

Tom hanya terdiam dan memandangi kedua bola mata Emma selama beberapa menit selanjutnya, sampai akhirnya dia melihat jam perak yang terpasang di lengan kirinya. Tak terasa sudah satu jam lebih dia duduk disana.

“Sudah siang rupanya. Aku rasa sebaiknya aku pulang Em, mungkin Jeff dan Daisy menelponku dari tadi. Akan kubawa mereka bertemu denganmu nanti sore.”

Emma tersenyum.

Tom meraih kedua gelas wine yang sama sekali belum tersentuh.

“Sekarang saatnya bersulang Em.”

Tom menyentuhkan ujung gelasnya hingga terdengar suara dentingan jernih, dia kemudian menenggak habis minuman di gelasnya.

Tom perlahan beranjak ke depan, dia kemudian mencium Emma..

…Foto Emma.

Tom menuangkan wine dari gelas kedua ke atas batu nisannya.

“Selamat ulang tahun pernikahan yang ke lima puluh sayang, aku cinta kamu, kami semua cinta kamu.”

Sepotong Apel Merah

Di antara sekian banyak bangku di taman ini, aku paling suka bangku yang berada di dekat patung—aku tak tahu patung ini berbentuk apa, menurutku bentuknya seperti seorang pria yang membawa tongkat pendek yang biasanya dibawa petugas keamanan, tapi kata teman-temanku patung itu sedang membawa pedang—yang paling dekat dengan jalan raya. Aku suka bangku itu karena jika aku menghadap ke luar, aku bisa melihat jalan raya yang bercabang tiga, sedangkan jika aku menghadap dalam, aku bisa melihat seluruh taman dengan sekali pandang, tanpa perlu menoleh-noleh.

Jika sudah menghabiskan koran daganganku, aku sering duduk-duduk di sana. Tentu saja jika bangku itu masih kosong—faktanya, bangku itu memang sepi peminat karena jika pagi, sinar matahari langsung menyorot ke arahnya. Kalau sudah ada orang yang duduk di bangku itu, aku lebih memilih untuk duduk di bangku di bawah pohon beringin di ujung selatan taman.

Tapi sudah beberapa hari aku tak bisa duduk di bangkuku. Seorang anak kecil berseragam sekolah selalu duduk di sana. Ia mengenakan tas bergambar Power Ranger dan selalu membawa wadah bekal makan yang diletakkan di sampingnya begitu ia duduk. Di bangku itu ia duduk sendiri, untuk beberapa lama. Beberapa menit sebelumnya, seorang perempuan berusia tiga-puluhan berjalan kaki menggandeng anak kecil itu. Setelah sampai di bangkuku, wanita—yang kurasa merupakan ibu dari anak kecil berseragam sekolah itu—itu merapikan baju si anak, menepuk-nepuk pundaknya, lalu mengecup keningnya. Kemudian wanita itu berlalu begitu saja ke arah utara, meninggalkan anaknya sendirian.

Beberapa hari lalu, ketika aku pertama kali melihat adegan ibu-anak itu, aku merasa heran. Sampai saat itu aku belum pernah menyaksikan seorang anak kecil ditinggal oleh ibunya untuk duduk sendirian di bangku taman yang letaknya tepi jalan yang ramai. Dan aku juga tak pernah membayangkan akan pernah menyaksikannya. Kurasa orang tua manapun tak ada yang tega meninggalkan anaknya sendirian begitu. Bagaimana jika ada penculik, misalnya? Bukannya aku berharap sesuatu yang buruk terjadi, tapi aku realistis saja. Kisah penculikan sudah terlalu sering menghiasi halaman-halaman koran. Orang lain saja rela membayar seorang pengasuh anak demi tidak meninggalkan anak mereka sendirian.

Saat itu kupikir si ibu akan kembali, tapi aku sadar pikiranku salah ketika beberapa menit selanjutnya anak kecil itu malah didekati oleh seorang pria. Dan sekali lagi pikiranku salah ketika kupikir anak kecil itu akan menunjukkan reaksi takut atau bahkan kabur, tapi ternyata ia justru mencium tangan pria yang mendekatinya dan bahkan kemudian memberikan wadah bekal makan yang sedari tadi ada di sampingnya.

Setelah menerima wadah bekal makan itu, si pria duduk di sebelah anak kecil tersebut. Ia membuka wadah bekal tersebut, mengeluarkan isinya, lalu memakannya. Dari tempatku duduk saat itu aku tak bisa melihat dengan begitu jelas apa yang ia makan. Yang jelas bukan nasi karena ia menggenggam makanannya. Bukan juga gorengan karena warnanya bukan cokelat. Ah, kurasa itu apel merah. Mungkin sudah dibelah, karena ada sisi berwarna putih.

Saat aku sedang meyakinkan diri bahwa memang apel yang dimakan oleh pria itu, mereka berdua berdiri—berarti pria itu makan dengan cepat sekali. Sambil bergandengan, berdua mereka berjalan ke arah utara. Tak ada reaksi aneh yang ditunjukkan baik oleh anak itu—entah teriak, terkejut, atau takut-takut—maupun oleh si pria—mungkin menarik paksa, memukul, atau membentak—, jadi kurasa mereka saling mengenal.

Tapi sejak melihat hal tersebut pertama kali aku tak pernah menyangka bahwa mereka berdua memiliki hubungan ayah-anak, hingga kemarin.

Kemarin, selepas mengisi perut dengan nasi pecel di warung kecil dekat-taman sebelah-barat, aku kembali duduk di bangku di bawah pohon beringin. Anak kecil berseragam sekolah itu telah tiba di taman dan menduduki bangkuku.

Belum sampai sepuluh menit aku duduk, hujan turun. Tidak ada peringatan mendung sebelumnya. Saat air langit mulai menetes, anak kecil itu tampak panik, seperti juga orang lain yang sedang duduk ataupun lalu-lalang. Ia berdiri memeluk wadah bekalnya. Menoleh-noleh, mungkin mencari tempat berteduh. Aku melambai ke arahnya—bangkuku yang ini adalah satu di antara dua bangku di taman ini yang memiliki atap. Ia melihatku, lalu segera berlari ke arahku. Kutepuk-tepuk tempat duduk di sebelahku untuknya, sebelum diduduki oleh orang-orang yang mulai merapat di bangku ini.

Selama hujan turun, ia terus melihat ke arah pertigaan di ujung, sesekali menoleh ke selatan.

“Aku mencari ayah,” jawabnya saat kutanya mengapa sejak tadi ia tak bisa tenang, “aku harus memberikan ini untuk ayah. Titipan dari ibu,” lanjutnya.

Saat itulah aku tahu bahwa pria yang setiap hari datang, membuka wadah bekal dan memakan isinya, dan menggandeng tangan anak kecil di sebelahku adalah ayahnya.

“Titipan?”

Ia mengangguk. “Ayah sudah tidak tinggal serumah dengan aku dan ibu.”

Sejenak kami berdua sibuk dengan diri masing-masing.

“Sarapan?” Mataku mengarah ke wadah bekal yang ia pegang.

“Bukan. Ini apel merah. Ayah suka apel merah.”

Rupanya mataku tak salah lihat waktu itu. Memang apel merah.

“Itu Ayah!” ia menunjuk seberang jalan. Aku mengikuti telunjuknya. Seorang pria bertopi berlari-lari kecil menyeberang jalan. Bajunya basah.

Tiba-tiba anak kecil di sampingku berlari menuju pria itu. Ketika itu aku sadar bahwa hujan telah reda. Lalu kulihat sepasang ayah-anak itu berjalan bergandengan tangan ke arah utara.

---

Hari ini aku melihat anak kecil yang beberapa hari terakhir rutin duduk di bangkuku. Di sampingnya tetap ada wadah bekal makan. Tapi bukan seragam sekolah yang menempel di tubuhnya. Ia mengenakan kaos oblong dan celana selutut. Ia juga tidak menggendong tas punggung bergambar Power Ranger.

“Menunggu ayah?” sebenarnya aku sendiri juga tak tahu kenapa pada akhirnya aku memutuskan untuk mendekatinya dan menanyakan hal itu.

Ia mengangguk.

“Apel merah?”

Sebuah pertanyaan basa-basi. Aku kemarin sudah tahu bahwa yang ada di wadah bekal itu adalah apel merah.

Tapi ia menggeleng.

Ia berkisah, katanya ketika tadi pagi ia bangun tidur, ia menemukan ibunya masih tidur dalam posisi duduk di kursi di depan televisi. Karena ia tak ingin terlambat ke sekolah, ia memanggil-manggil nama ibunya. Tak ada reaksi, ia menggoyang-goyang tubuh ibunya. Tak ada reaksi juga. Ia menangis keras, karena biasanya, ia bilang, bila ia melakukan itu maka ibunya akan langsung bangun dan menenangkannya. Tapi itu tak terjadi. Ibunya tetap bergeming.

“Lalu apa yang kamu lakukan?”

Yang ia tahu, jawabnya, pagi itu ia harus mengantar apel merah untuk ayahnya, seperti hari-hari biasanya. Ia membuka kulkas, mencari apel merah yang memang biasanya disimpan di situ. Tapi tak ada sebutir apel merah pun di kulkas. Apel merah juga tak ada di lemari. Ia mencari di seluruh sudut rumah. Sayang tak ada apel merah tersisa di rumahnya.

“Aku sayang ayah. Ibu juga. Tapi ayah tidak sayang pada ibu. Makanya sebulan lalu ayah tidak tinggal di rumahku dan ibu. Ayah juga tidak mau bertemu ibu, cuma mau makan apel merah yang dipotong ibu saja.”

Jalan pikiran ayah dan ibu dari anak ini tak kumengerti. Pisah rumah, tapi setiap hari masih mau makan apel yang dipotong oleh orang yang tidak ia sayangi. Pisah rumah dan tahu bahwa orang yang ia sayangi tidak menyayanginya, tapi masih saja memotongkan apel untuknya setiap hari. Kurasa aku harus ada di posisi mereka untuk bisa memahami jalan pikiran unik itu.

“Aku kasihan pada ayahku.” Kata bocah di sebelahku melanjutkan cerita, “setiap hari ia memakan apel merah yang dipotong oleh ibu. Kalau hari ini tidak, aku takut ayah jadi marah padaku dan tidak mau bertemu denganku, seperti ayah tidak mau bertemu ibu.”

“Jadi akhirnya aku membawa ini untuk ayah.” Ia membuka wadah bekalnya, “biar nanti ayah yang membeli apel merah sendiri tapi tetap ibu yang memotong apel merah itu untuk ayah.”

Aku kurang paham, tapi aku melongok ke wadah bekal yang telah ia buka. Di dalamnya terdapat sebilah pisau dan sepotong telapak tangan wanita.

 ***

Lapangan Banteng, 1 Oktober 2012

Kalaza Cinta Pertama

Dia cinta pertamaku….

Kuingat kembali saat dia melantukan larik stanza cinta sambil mengucap kata sayang. Tangannya selalu menggenggam erat saat aku lemah tak berdaya, seolah berusaha berbisik, “Aku selalu ada di sampingmu.”

“Aku kembali,” ucapanku teredam di ruangan penuh ornamen kayu eboni ini.

Dia hanya terdiam memunggungi.

“Aku kembali,” ulangku lebih lantang

Tak ada jawaban. Kulihat kepalanya yang berbalut rajutan ciput hitam hanya sedikit menunduk. Dari balik bahu, kulihat tangannya bergerak-gerak terusik.

“Ah…masih marah sepertinya,” sambil mengerang kulepaskan tas punggung merah maroon dari pundakku. Entah kenapa aku yang dulu sangat membenci interogasi overprotektifnya, kini malah merindukannya setelah kepergianku yang cukup lama.

Hembusan angin menerpa atap rumah meluruhkan dedaunan pohon lakum yang telah menguning. Mungkin cintanya telah luruh seperti dedaunan itu.

                                                     ***
 
“Mas, darimana saja? Kelayapan ya,” sindirnya tajam setiap kali aku pulang larut. Bagiku pertanyaan itu hanyalah sebuah pertanyaan retoris tak berdasar. Aku hanya melontarkan senyum alih-alih jawaban.

“Dengan siapa?” nadanya naik.

Aku terlalu lelah untuk menjawab semua pertanyaan tersebut. Kuletakkan tasku di meja ruang tamu agar dia menghentikan investigasi tak berujung ini. Dia melirik sekilas.

“Lihat, pakaianmu lusuh...wajahmu letih. Tak bisakah kau menjaga diri?” emosinya masih terlihat jelas di raut mukanya yang sayu. Kecantikannya telah luntur dimakan waktu dan kekhawatiran yang berlebih. Siapa mengira dulu dia adalah kembang desa.

“Jangan terlalu mengkhawatirkanku...,” aku memegang pundaknya dan memutar tubuhnya hingga menghadap cermin yang diterangi temaram lampu osmium.

Dari balik kaca dia memandangi tubuhnya yang tinggal tulang berbalut kulit, rambutnya yang kusut, dan garis-garis halus yang menghiasi hampir seluruh wajahnya.

“Siapakah yang tak bisa merawat diri?” sindirku lembut.

Dia terpaku dan menatap lekat cermin itu. Kebisuan sepuluh detik ini sangat menyiksaku. Apakah aku salah berbicara?

“Hanya kebutuhanmu yang kupikirkan saat ini, Mas… Hanya ada kamu sekarang.

Tak kusangka, kristal bening mulai mengalir di kedua sudut matanya.
 
                                                    ***
 
Susunan kaca mozaik yang dipandanginya sejak lima belas menit lalu bergetar terhempas angin anabatik yang makin memburuk di lembah gersang ini. Membuyarkanku dari semua lamunan masa lalu. Aku masih berdiri di pintu.

Kini dia benar-benar memilih diam. Kulihat tulang lehernya semakin menonjol di antara kerah blus dan ciputnya.

“Jangan lupa makan,” suaraku memecah keheningan.

Aku ingat bagaimana dia juga sering mengingatkanku untuk hal-hal sepele semacam itu.

Hening...

Suasana masih beku. Harus kubuka pembicaraan yang telah vakum selama satu dekade ini.

“Aku mengerjakan proyek raksasa di Batam,” sambil bercerita kumelangkah memasuki ruangan, “uang bulanan yang kukirim lewat rekening adalah hasil jerih payahku,” kakiku terus berayun hingga jarak antara aku dan dia semakin dekat, “Harusnya uang sejumlah itu lebih dari cukup.”

Dari sini bisa kulihat tulang belikatnya, seperti tonjolan kesengsaraan bertahun-tahun di balik kepolosan blus putihnya.

Kualihkan pandangan menuju foto keluarga kami yang masih terpajang dalam bingkai kayu cendana. Sayang foto itu kini telah dilapisi debu. Kuusap perlahan dengan ujung kemeja hingga aku dapat melihat sosok mungil yang tertawa riang di gendonganku.

“Si kecil Diana… Harusnya dia telah menjadi remaja yang cantik,” sambil tersenyum kupandangi bidadari kecil itu.

“Andai saja waktu itu…,” tak sanggup kulanjutkan kata-kataku. Seolah luka lama yang telah terbalut selama bertahun-tahun kini menganga kembali.
 
                                                       ***

Diana yang baru berusia tiga tahun tertawa riang di pangkuanku saat mobil kami melaju di jalanan arteri. Berpacu bagai deru jantung bocah kecil yang tak sabar melihat hamparan pasir putih dan perairan benhur jernih .

“Pantai!” teriaknya bersemangat.

Disebelahku. seorang teman wanita yang cantik menemani perjalanan kami.

“Sebentar lagi kita sampai Zahra…,” jawabku sambil memandang sekilas ke arahnya, mengagumi setiap detil wajahnya yang sempurna.

Hingga sebuah truk pengaduk menyambut kami dari arah berlawanan. Tak pelak mobil kami pun terpelanting keras menghantam pohon bedaru.

Diana dan Zahra meninggal saat itu juga…

Hanya nyawaku yang selamat.
 
                                                            ***
 
Aku terbujur di rumah sakit. Ditemani oleh dia.

“Maafkan aku…” lidahku kelu saat mengungkap kronologi mengenaskan itu. Tak sanggup kutatap matanya.

Semenjak kecelakaan tragis tersebut, kupikir dia tak akan pernah memaafkan dan akan mengusirku. Ternyata dugaanku meleset.

Dia tetap mencintaiku. Hanya saja ada yang berubah.
 
                                                         ***
 
“Mas, kamu tak mengerti!” bentaknya pada suatu hari.

“Apa lagi?”

“Sudah kubilang hentikan!”

Kumatikan rokok yang tengah kuhisap dan mencoba untuk tetap tenang. Hujan sudah reda namun petir terdengar masih menggelegar di luar. Kuraih remote dan berharap akan ada acara yang menghibur di akhir pekan ini.

“Matikan!” bentaknya lagi.

Aku mencoba menuruti semua kata-katanya. Tapi aku butuh pengalihan pikiran dari semua masalah pekerjaan yang menumpuk di kantor.

“Aku mau cari udara segar,” sambil beranjak kuambil kunci mobil.

Tak kuduga dia merampas kunci yang telah ada di genggamanku.

“Kamu tidak boleh pergi!”

Selalu seperti ini. Kesabaranku mulai habis. Bagaimana bisa setiap detik dia sangat membatasi kebebasanku?

Bertahun-tahun sejak kematian Diana, aku mencoba bertahan dengan semua sikapnya. Tapi kali ini sudah cukup. Rumah ini lebih mirip bui sekarang. Bagiku dia hanya akan menghambat kesuksesanku. Tidak ada lagi yang bisa kuharapkan dari dirinya.

                                                           ***
 
“Mas, jangan pergi!” tangisnya di suatu malam.

“Aku harus pergi,” kurapikan pakaianku ke dalam koper.

“Kamu tega!” tangisnya mulai membuncah.

“Aku tak bisa terus disini,”

Resleting koper telah kutarik. Aku bergegas menuju garasi. Tak kuacuhkan semua ceracau menyedihkan yang masih terus mengikuti di belakangku. Sebelum dia menghalangiku lagi, starter mobil telah kunyalakan.

“Selamat tinggal rumah,” ucapku pada diriku sendiri. Meninggalkan semua kenangan indah di rumah prodeo ini.

“Selamat datang harapan baru,” kutancap gas menuju kota impianku. Disanalah harapan yang baru akan kurintis –Batam.

Seolah bertalu-talu mengiringi perjalananku, raung tangisnya yang pilu masih jelas menggema di telinga.
 
                                                               ***
 
Jam berdentang dua belas kali.

Tak terasa aku telah bercerita hampir satu jam. Kukira dengan bicara masa lalu, dia akan terpancing emosinya seperti dulu lagi. Tapi dia tetap tenang mendengarkan.

“Maaf…,” hanya itu kata penutup yang terlontar dari mulutku. Aku sadar telah berkali-kali menyakitinya.

“Sayang...,” sebuah suara wanita tiba-tiba memanggil dari arah pintu.

Ini saatnya…pikirku dalam hati.

Aku menjemput wanita muda yang sedang berdiri di pintu tersebut. Bagiku dia sempurna. Kuraih tangan halusnya yang dihiasi kilauan emas berlian, sama berkilaunya seperti kemilau wajahnya yang tanpa cacat.Dialah sosok wanita yang tidak pernah menginterogasi kemana aku pergi karena dia tahu aku sedang bekerja membanting tulang demi dirinya. Dialah sosok wanita yang kembali manja setelah pertengkaran saat aku memberinya hadiah-hadiah mewah yang dia senangi. Seseorang yang tidak pernah bisa membuatku marah karena kecantikannya yang sangat memesona.

Kecantikan yang tidak bisa diperoleh tanpa pengorbanan uang dan waktu yang banyak.

Wanita inilah yang menikah denganku saat aku sukses menjadi presiden direktur di salah satu perusahaan ternama di Batam.

“Namanya Cassandra…,” dengan bangga kuperkenalkan istri cantikku dihadapan wanita yang pernah kusakiti.

Kini dapat kulihat dengan jelas. Wanita yang telah lama kutinggalkan itu kondisinya sangat menyedihkan. Keriput mengukir setiap bagian wajahnya menggambarkan guratan-guratan luka dalam. Tubuhnya yang kering kerontang seolah menggambarkan dirinya yang hidup kesepian bertahun-tahun.

Dan…kedua matanya terpejam…seolah tak mau melihat kebahagiaanku bersama Cassandra.

“Aku bahagia jika Cassandra bahagia,” kupandangi sekali lagi wajah Cassandra yang rupawan. Sebuah pemandangan berbalik 180 derajat dibandingkan wanita yang kupandang beberapa detik lalu.

Tapi…kulihat ada yang berbeda di mata Cassandra. Matanya yang biasanya bersinar teduh, kali ini terbelalak, seolah memandang sesuatu yang sangat mengerikan.

“Cassandra…,” kulihat mulutnya mulai menganga.

“Dia…dia…,” dengan tergagap Cassandra mengangkat lengan berniat menyentuh wanita itu.

“Cassandra!” sebelum aku sempat menghentikannya, Cassandra telah menggoncangkan pundak wanita itu. Pada saat yang bersamaan, tubuh kurus dan ringkih wanita itu lunglai ke depan. Secara mengerikan wanita itu kini jatuh tersungkur dari kursinya.

“Ibu!!!” Teriakku histeris.

Ibuku yang malang kini terbujur di lantai kayu kamar. Tanpa kusadari entah sudah berapa menit yang lalu dia menghembuskan nafas terakhirnya.

Mataku seketika nanar. Seseorang yang telah mengandungku selama sembilan bulan, menjagaku bertahun-tahun, mengikatku dengan cinta dan ikatan batin yang tulus, kini meninggalkanku untuk selamanya.

Tangisan tak terbendung terdengar menyayat hingga ke luar pondok duka ini. Mengalir menyusuri lembah penyesalan yang teramat dalam.
 
                                                          ***
 
Sudah sebulan semenjak kepergian Ibuku. Dokter telah mengotopsi dan hasilnya adalah ibuku menderita penyakit jantung kronis selama kurang lebih sepuluh tahun. Tepat saat aku mulai meninggalkannya sendirian demi mencapai harapan baru.

Di rumah yang sama, tempat dimana aku dulu sering berdebat dengan Ibu, kini terasa hampa dan sepi. Tak bisa lagi kudengar semua aturan dan larangan yang seolah tak pernah lelah Ibu lontarkan untuk menemani hari-hariku.

Yang tersisa darinya sekarang hanya sebuah lemari berisi baju-baju sederhana dengan aroma khas Ibu yang masih jelas kuingat. Baju-baju itu seolah memanggil-manggil empunya, merindukan saat-saat untuk kembali dikenakan.

Di antara tumpukan baju itu, kutemukan secarik kertas biru.

Berlahan kubaca alinea demi alinea.

“Dimas anakku…
Bukannya terlalu memenjarakanmu
Tapi semua karena Ibu terlalu sayang padamu

Ibu tak ingin lagi kehilangan seorang buah hati lagi setelah kepergian adikmu,Diana…
Rasanya sangat menyakitkan …

Mungkin kamu membenci Ibu
Tapi inilah kalaza cinta seorang Ibu
Seolah terlihat mengikat
Tapi semua demi kebaikan sang embrio
Yang pada saatnya nanti, embrio itu akan menetas
Dan sang kalaza akan menghilang
Untuk selamanya…”

 
                                                     ***
 
Malam temaram…
Penyesalan mendalam tak kan bisa ditebus dengan gunung sebesar apapun.

Kuulang-ulang bagian terakhir surat itu...

Kalaza cinta ini
Membuat Ibu tetap mencintaimu sampai kapanpun
Jangan sedih jika aku meninggalkanmu…
Ibu bahagia asal kamu juga bahagia

Salam Hangat, Ibumu

Dilangit sana…kulihat seolah ibu tersenyum melihat putranya telah sukses dan tumbuh dewasa.

Andai aku menyadari betapa singkatnya kebersamaan kita…akan kubahagiakan engkau terlebih dahulu Ibu –karena engkaulah cinta pertamaku.

Sehabis Hujan

Hujan, bukanlah sahabat karib bagi kebahagiaan. Karenanya, hampir tidak ada satupun manusia di kolong langit ini, yang ingin merayakan hari ulang tahunnya di bawah gelontoran bulir-bulir hujan. Bahkan, dalam gerimis yang paling ringkih sekalipun.

Tapi nasib memang kesunyian milik masing-masing, dan seperti itulah bagaimana nasib menuntunku dalam perayaan hari kelahiranku kali ini. Menyandang kaos ala kadarnya dan celana mambo dekil, yang jadi makin tak enak dilihat karena basah kuyup habis tertempa guyuran hujan, aku terduduk nanar di pojokan halte bus sekitaran wilayah Pasar Rebo.

Bekas tapal-tapal kaki manusia, yang merupakan perpaduan dari air hujan dan liat-liat tanah yang menggumpal, menghampar dengan rupa tak beraturan di sekitaranku. Membikin halte yang sudah tampak lapuk itu jadi semakin terlihat kumuh dan kotor. Telapak tanganku yang mulai keriput akibat kedinginan, kugunakan untuk melipat payung merah yang kubawa dari rumah, kemudian menyandarkannya di tiang penyangga halte. Beberapa meter dari tempatku duduk, orang-orang sibuk berlalu-lalang, silih berganti dalam hiruk pikuk yang dinamis.

Waktu memang sedang berada dalam periode orang-orang pulang kerja. Dan menikmati perpaduan antara wajah-wajah cemas yang basah kuyup milik mereka, sembari mendengarkan berisik suara hujan yang bertubi-tubi menghantam atap halte, sama sekali tidak termasuk ke dalam definisi sore yang indah menurut kamusku. Apalagi, untuk menikmati sebuah seremoni hari ulang tahun.
 
Memang sih, seumur hidupku, aku tak pernah merayakan ulang tahunku. Alasannya tentu saja klise, soal uang. Tidak seperti kebanyakan orang yang sanggup berpesta pora merayakan pertambahan usia mereka dengan bercangkir-cangkir arak atau bhinneka rupa penganan, aku hanyalah satu diantara 356.000 orang miskin yang hidup di ibukota. Boro-boro merayakan ulang tahun, untuk makan sehari-hari saja sering angin-anginan.
 
Aku cuma hidup berdua dengan Mamak sekarang ini. Ayahku, sudah lebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, enam tahun yang lalu. Kepergian Ayah, adalah titik balik dalam kehidupan keluarga kami. Setelahnya, hidupku dan Mamak tidak pernah sama lagi.
 
Mamak yang tadinya cuma ibu rumah tangga biasa,  harus mengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga dengan berdagang gorengan dan menjadi buruh cuci serabutan. Hasilnya tidak seberapa. Hanya pas-pasan untuk makan sehari-hari saja. Karenanya, aku sering menjadikan hal tersebut sebagai alibi saat Mamak mulai mewejangi diriku perihal aku yang tak seharusnya putus sekolah demi ikut-ikutan mencari uang buat makan.
 
“Kamu ndak perlu mikir urusan uang, biar itu jadi urusan Mamak. Yang penting kamu lanjutkan sekolahmu,” Kata Mamak waktu itu.
 
Aku boleh dibilang cukup beruntung karena masih sempat menamatkan bangku pendidikan sekolah dasar, meski dengan segala keterbatasan, serta berulang kali menunggak uang SPP. Akan tetapi waktu Mamak menyuruhku untuk melanjutkan sekolah ke bangku SMP saat itu, aku tahu, aku harus menggeleng penuh getir.
 
“Ndak mau, aku mau kerja bantu-bantu Mamak. Sekolah, kalau cuma SMP juga percuma. Ndak akan jadi apa-apa," bantahku waktu itu.
 
Ada rasa yang menyakitkan saban melihat Mamak bangun di pagi buta, menyalakan kompor, menata ubo rampe di dapur, menyiapkan dagangannya, dengan wajah sayunya yang masih kelihatan mengantuk itu. Begitu pun saat melihatnya pulang di sore hari, membawa bertumpuk-tumpuk pakaian yang harus disetrikanya sampai larut malam, sehingga menggerogoti waktu istirahatnya yang sudah tak seberapa itu. Sudah cukup Mamak bekerja keras sendirian, pikirku. Biarlah aku ini putus sekolah untuk meringankan perjuangan Mamak membiayai hidup kami.
 
Setelah melalui percakapan yang cukup panjang di suatu malam, pada akhirnya Mamak kehabisan kata-kata untuk membendung keinginanku. Mamak, meski aku yakin di dalam hati kecilnya tidak akan pernah rela melihatku putus sekolah, pada akhirnya memperbolehkanku untuk meninggalkan bangku sekolah.
 
Aku lalu memutuskan untuk kerja serabutan. Kerja apa saja yang aku bisa. Dari mulai jadi loper koran di pagi hari, ngamen dengan suara sumbang dari bus ke bus, cuci motor, semir sepatu, sampai dengan yang sedang kulakukan saat ini : ojek payung. Ya, berhubung musim penghujan mulai tiba, ojek payung adalah salah satu lahan makanan yang tak boleh kusia-siakan. Meskipun sebagai akibatnya, kadang-kadang aku harus mengalami hal-hal yang cukup menyebalkan. Merayakan ulang tahun dalam keadaan basah kuyup dan menggigil kedinginan seperti sekarang ini adalah salah satunya.
 
Kadang-kadang, aku juga suka berpikir, untuk apa sebenarnya aku melanjutkan hidup ini kalau cuma untuk sekedar mencari makan demi bertahan hidup. Orang-orang tak mampu seperti aku ini, terlebih lagi yang putus sekolah, memang seperti tak memiliki tujuan hidup, apalagi pengharapan.
 
Aku ingat pernah membaca sebuah buku di toko buku bekas milik Babah Akiong. Di dalamnya ada tulisan yang mengatakan bahwa kemiskinan adalah seburuk-buruknya kekerasan. Sebabnya, kemiskinan memangsa harapan manusia secara perlahan-lahan, dan dengan cara yang menyakitkan. Kalau dipikir-pikir benar juga. Gara-gara kemiskinan, aku dan orang-orang lain yang senasib denganku, jadi tak punya harapan buat masa depan. Segala gerak-gerik kami serba terbatasi, terutama untuk hal yang bersangkutan dengan duit.
 
Kemiskinan, harus diakui, sudah dengan semena-mena memberangus harapan-harapan yang kami gantungkan. Misalnya saja harapanku untuk meneruskan sekolah. Kemiskinan juga, telah sukses membikin kami semua cuma tahu satu hal, bekerja untuk mencari makan. Boleh dibilang kami ini hidup hanya untuk makan. Merencanakan kehidupan yang lebih baik di masa depan, sungguh berada di luar jangkauan pikiran kami yang bahkan tak bisa menerka-nerka apakah esok hari masih bisa menemui sejumput nasi di periuk kami atau tidak.
 
"Tro, sudah ndak hujan lagi nih. Pulang saja yuk," suara Juna, rekan seperjuanganku sesama pengojek payung, tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
 
Nama aslinya sebenarnya Junaedi, tapi ia selalu menolak untuk dipanggil Junet, sebagaimana orang-orang lain yang bernama Junaedi selalu dipanggil, ataupun Edi, dan memilih untuk dipanggil Juna saja, karena menurutnya nama itu kedengaran lebih keren dan gagah. Sebagai teman yang baik, aku menuruti saja permintaannya itu meski saban kali memanggil namanya, aku harus menahan tawa yang datang mengkilik-kilik.

"Eh iya, ayo. Kalau hujannya sudah habis begini, mana laku payung kita," ujarku seraya bangkit dari tempat dudukku.

Kutinggalkan halte yang lecak itu bersama Juna. Kemudian menyelip-nyelip lah kami diantara kendaraan-kendaraan yang sedang melaju tersendat-sendat di jalanan, sebelum akhirnya kami berdua berbelok di sebuah gang di dekat pom bensin. Gang yang menjadi satu-satunya akses untuk sampai ke rumah kami.

"Ini hari apa ya Jun?, tanggal berapa?" aku iseng bertanya ke Juna untuk mengetes apa dia ingat dengan tanggal ulang tahunku.

"Hari Kamis, Tro. Tanggalnya 31 Agustus. Memangnya ada apa?" sahutnya.

"Oh, ndak apa-apa kok, pengen tahu saja," balasku. Benar saja dugaanku, Juna tidak ingat dengan tanggal ulang tahunku.

"Seminggu lagi aku ada ujian, Tro. Itu banyak pelajaran yang aku ndak ngerti," Juna mulai bercerita tentang sekolahnya.

Juna memang sedikit lebih beruntung daripada aku. Meskipun juga tergolong orang yang tidak mampu, dia tidak sampai harus putus sekolah sepertiku. Dia, meski juga dengan segala keterbatasan biaya, masih bisa meneruskan sekolahnya ke bangku SMP. Hanya karena ingin mencari uang jajan dari hasil keringat sendiri lah, ia rela berhujan-hujanan mengais rupiah bersamaku dengan menawarkan ojek payung ke orang-orang.

Celotehan Juna panjang lebar soal sekolahnya tak kudengarkan dengan seksama. Pikiranku lebih tertarik untuk mengawang-awang ke kejadian tadi pagi. Kejadian saat Mamak membangunkanku untuk sholat shubuh.

Pagi tadi Mamak membangunkanku seolah-olah hari ini adalah hari yang biasa saja. Hari yang tak jauh beda dibanding hari-hari biasanya. Hari yang tak istimewa buatku, juga bagi Mamak. Padahal, di ulang tahunku yang sebelum-sebelumnya, meski kami tak pernah merayakanya dengat hajatan apapun, Mamak tak pernah alpa menyelamatiku, tepat pada saat dia membangunkanku. Padahal juga, Mamak bukanlah seorang pelupa tanggal ulang tahun yang ulung. Mamak selalu ingat kapan tanggal ulang tahun Ayah. Begitupun dengan tanggal ulang tahun pernikahan mereka. Bahkan, hingga tanggal ulang tahun Pak Presiden pun, Mamak juga ingat. Semua selalu berhasil diingatnya dengan cermat.

Mungkin Mamak kelampau lelah dirongrong kesibukannya sehari-hari sehingga lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku. Mungkin juga Mamak menganggap aku sudah cukup dewasa sehingga tak perlu lagi diselamati saat hari ulang tahunnya tiba. Atau mungkin juga akulah yang terlalu berlebihan mengkultuskan hari ulang tahun sebagai sebuah momen yang perlu dirayakan. Entahlah mana yang benar.

"Aku duluan ya, Tro. Semoga besok hujan lagi, kalau perlu hujan sepanjang hari," Juna sepertinya hari ini sedang gemar jadi manusia yang suka membuyarkan lamunan orang. Lagi-lagi dia berhasil menarikku keluar dari pasir hisap lamunan senduku.

"Jangan sepanjang hari lah, nanti jemuran Mamakku ndak ada yang kering gimana," balasku sambil terkekeh.

Setelah Juna menghilang masuk ke dalam rumahnya, aku kembali meneruskan lamunanku sembari melangkahkan kaki menuju rumah. Dan bicara soal jemuran Mamak, aku jadi teringat kalau belakangan ini beliau jadi sering pulang lebih malam daripada biasanya. Kalau biasanya Mamak sudah berada di rumah saat ba'da ashar, hampir seminggu ini Mamak selalu pulang di atas pukul tujuh. Saat kutanya mengapa Mamak pulang lebih malam dari biasanya, Mamak cuma mengurai seulas senyum sambil mengingatkan bahwa aku mestinya bersyukur, karena semakin malam Mamak pulang, itu tandanya Tuhan sedang melimpahkan rezeki yang lebih banyak dari yang biasa kami dapatkan.

Aku terus berjalan pulang. Masjid sebelah rumah sudah menyerukan adzan maghrib ketika aku sampai di depan rumah. Kuamati keadaan rumahku yang mayoritasnya terbikin dari triplek itu. Ada yang sedikit aneh darinya. Daun pintunya sedikit terbuka, menandakan kalau rumah ini telah dimasuki seseorang. Jangan-jangan Mamak sudah pulang.

"Maaaaakkk...." aku berteriak untuk memastikan apakah orang yang ada di dalam sana adalah Mamak. Tidak ada sahutan.

Tidak ada orang di dalam. Yang kudapati di dalam hanya dua buah kotak karton di atas meja. Yang satu berukuran sedang, ukurannya sedikit lebih kecil dari kardus mie instan. Yang satunya lagi berukuran kecil, cuma sebesar jengkalan tanganku. Ada secarik kertas ditaruh di atasnya, bertuliskan : "Buat Sastro".

Kubuka kotak-kotak itu dimulai dari yang kecil dahulu. Aroma sedap dan asap segar mengepul dari dalamnya saat penutupnya kubuka. Penganan berwarna kecoklatan yang dipotong bentuk persegi berjejer dan bertumpuk di dalamnya. Martabak! isinya martabak telur kesukaanku! Aku tersenyum. Sudah lama sekali aku tak makan martabak. Kusesap aromanya yang sedap berkali-kali. Sungguh aku pasti kelihatan sangat norak saat mengendus-endusi martabak seperti itu.

Sekarang giliran kotak yang lebih besar kubuka. Dan betapa girangnya aku saat kulihat ternyata isinya adalah buku-buku yang selama ini sering curi-curi kubaca di tempat Babah Akiong. Isinya macam-macam. Dari mulai novel-novel Marah Rusli, buku karangan Ahmad Tohari, biografi Bung Karno, sampai dengan buku pelajaran untuk anak SMP. Senyuman di wajahku bertambah lebar. Ini adalah hadiah indah yang tidak terduga-duga.

"Selamat ulang tahun ya, nak. Maaf, cuma bisa belikan yang seperti itu," suara perempuan tiba-tiba terdengar dari belakangku

Kulihat Mamak berdiri di depan pintu. Wajahnya sumringah. Bibirnya terkembang ke atas, tersenyum riang. Mamak kelihatan cantik sekali sore itu. Aku langsung menghambur ke arahnya, kemudian memeluknya erat-erat. Mamak menciumiku dengan penuh kehangatan. Mengelus-elus ubun-ubunku. Serta mengusap-usap keningku. Ada isyarat penuh kasih sayang yang tergambar jelas dalam setiap gerakannya itu. Beberapa bulir air mata mulai melompat dari kelopak matanya, juga mataku.

"Terima kasih, Mak." aku mengucap dengan terisak-isak. Mamak mengangguk menanah haru.

Rupa-rupanya belakangan ini Mamak mencari tambahan penghasilan di kampung sebelah. Hal inilah yang membikin Mamak jadi sering pulang malam. Mamak juga telah berkoalisi dengan Babah Akiong untuk memilih-milih buku-buku apa yang sekiranya sering kubaca di sana, untuk kemudian dibelinya dan dihadiahkan kepadaku. Mamak sengaja melakukan itu semua, cuma demi memberikanku kejutan di hari ulang tahunku. Dan kealpaan memberikan selamat tadi pagi, ternyata juga sudah direncanakan Mamak, supaya bisa memberikan efek kejut yang benar-benar mengena, katanya.

Sungguh bodoh benar aku tadi menggereutui Mamak di sepanjang jalan, cuma karena Mamak tak mengucapkan selamat ulang tahun pagi tadi. Aku lupa kalau Mamak adalah Mamak. Sosok ibu yang sangat menyayangi anaknya, lebih daripada sekedar ucapan selamat ulang tahun.

Di dalam pelukan Mamak aku mulai menyadari satu hal. Orang-orang yang miskin sepertiku ini, boleh jadi memang tidak memiliki harta yang berlimpah. Tapi orang-orang seperti kami selalu memiliki sesuatu yang disebut keluarga, harta yang sebenar-benarnya. Dan untuk diriku, harta yang paling berharga saat ini adalah Mamak. Satu-satunya keluargaku.

"Kamu mandi dulu sana. Nanti habis itu kita makan martabak sama-sama," kata Mamak sambil mengalungkan handuk di leherku.

Aku tersenyum lagi. Sepertinya kata-kataku di halte sore tadi harus segera kuralat. Sore ini, bukanlah sore yang tidak indah untuk sebuah perayaan ulang tahun. Sore ini, adalah sore yang paling indah sepanjang hidupku.

Ketabahan Bapak

“Kak, cepat pulang! Bapak sedang opname di rumah sakit.”

Setelah menerima pesan singkat dari adik perempuanku, aku segera bergegas meninggalkan kehidupan rumit di jalanan ibukota. Aku tahu jika adikku sudah berkata demikian, berarti sedang terjadi hal luar biasa. Usia bapak telah lanjut. Berkali-kali pula beliau masuk rumah sakit. Tetapi baru kali ini adik memintaku untuk pulang segera. Untuk itu, aku tak menunggu waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan. Siang itu juga aku langsung berangkat ke terminal Pulogadung.

Dengan tiket sisa yang kudapat susah-payah dari calo, aku berhasil menaiki bus malam terakhir yang membawaku ke desa kelahiranku di ujung selatan pulau Jawa. Anak dan istri kutinggal di rumah. Mereka kutitipi pesan untuk berdoa banyak-banyak agar seluruh keluarga kami selalu diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa. Aku tak berkata apapun soal bapak. Aku hanya sempat mengirim pesan singkat pada anakku yang sedang kuliah agar jaga rumah dan ibunya baik-baik.

Pukul 01.00 dini hari aku baru benar-benar sampai di rumah sakit tempat bapakku dirawat. Ketika aku tiba, hanya Nia, adikku yang tadi sore mengirimiku pesan singkat, yang masih terjaga. Ibuku, kakakku, serta dua orang adikku yang lain tengah berdesak-desakkan di lantai kamar rumah sakit yang hanya beralaskan tikar. Bapak pun terpejam. Meskipun aku tak tahu apakah orang sakit yang tinggal menghitung waktu untuk meninggal masih punya waktu untuk tidur. Melihatku datang, adikku langsung menggandeng tanganku keluar kamar agar kami lebih leluasa berbicara.

“Sudah berapa lama bapak rawat inap di rumah sakit?” tanyaku membuka perbincangan.

“Kondisi bapak beberapa minggu terakhir sudah payah. Ibu yang tidak tega akhirnya membawa bapak ke rumah sakit empat hari yang lalu. Bukannya membaik, kemarin malah bapak sempat kejang dan collapse sebelum akhirnya tenang kembali.”

“Lalu apa kata dokter?”

“Dokter yang menangani bapak sudah pasrah. Dia bilang penyakit komplikasi yang dialami bapak semakin parah menggerogoti tubuhnya. Sekarang kita hanya bisa berdoa semaksimal mungkin agar Allah memberikan hasil yang terbaik untuk bapak.”

“Baiklah. Sekarang kamu tidur saja. Kamu butuh istirahat. Biar aku saja yang berjaga di sini.”

Tanpa adikku menjelaskan dengan lebih rinci, aku tahu bahwa ibu telah menjaga bapak tanpa tidur selama beberapa malam sebelum akhirnya adikku ini memaksanya untuk beristirahat. Banyak saudara yang mau dengan ikhlas menjaga bapak sebenarnya. Tetapi ibu yang mudah cemas seringkali tak mau digantikan oleh siapapun. Beliau ingin selama mungkin menjaga dan merawat bapak karena selama ini Beliau telah kehilangan banyak waktu bersama bapak.
*
Aku duduk di kursi panjang di depan. Perlahan ingatanku melayang pada waktu lampau. Perlahan sekali. Kembali kuingat mengapa ibu menjadi seperti itu. Ingatan yang kemudian menjelma serupa nyata. Waktu aku kecil dulu. Hampir tiap hari kulihat ibu menangis. Menangis. Menangis. Dan menangis. Menangis karena ditinggal bapak 8 tahun lamanya. Menangis karena merasa dikhianati oleh aparat yang bertindak sewenang-wenang dengan tameng kekuasaan. Menangis karena ternyata banyak yang mengaku saudara sebangsa, tetapi saling hajar tanpa belas kasihan.

Waktu itu aku sedang bermain ke tegalan di desa sebelah ketika tiba-tiba adikku berlari ke arahku dan berteriak.

“Kak, cepat pulang! Bapak dikeroyok oleh orang-orang asing.”

Aku tak tahu bagaimana yang terjadi selanjutnya. Ketika tiba di rumah, yang kutemui hanya ibu sedang menangis dengan keras. Kata kakak, bapak diserbu oleh segerombolan orang berseragam hijau-hitam. Mereka mendobrak rumah dengan paksa dan memukul bapak dengan popor senapan. Lalu mereka menyeret bapak seperti binatang. Jika dengan terpaksa sekali harus kubilang apa yang dapat kusyukuri dari musibah tersebut adalah kepulangan bapak. Meskipun itu memakan waktu bertahun-tahun kemudian.
*
Fajar menyingsing. Ibu, kakak, dan yang lain mulai bangun satu persatu. Aku langsung menyalami ibu.

“Datang jam berapa kamu?” tanya ibu.

“Semalam bu. Begitu Nia sms aku langsung bergegas ke sini. Ibu sarapan dulu ya. Tadi aku beli bubur ayam di depan rumah sakit.”

Ibu hanya tersenyum. Beliau tak menangis lagi. Tetapi mata beliau sembab. Aku merasakan kesedihan mendalam yang tak bisa disembunyikan. Jika bapak bangun saat ini, beliau masti memarahi ibu. Bapak memang sangat berbeda dengan ibu. Hampir tak pernah kulihat bapak menangis. Bahkan dalam kondisi seburuk apapun.

Aku lantas ingat saat kakek meninggal karena sakit jantung. Bapak tidak menangis, melainkan hanya diam dan berdoa. Begitu pula saat nenek meninggal dua tahun kemudian. Sepertinya kehidupan keras sejak kecil telah menempa bapak menjadi pribadi yang tahan banting. Beliau adalah samudera ketabahan. Dari beliau aku belajar bahwa musibah dapat datang kapan saja dan kita tak punya pilihan selain menghadapinya.

“Persiapkanlah diri sejak awal agar kita tidak perlu sedih berlebihan,” ucap beliau suatu saat.

Kali lain, saat bapak akhirnya bebas dari tahanan, beliau langsung pulang dan menemui kami. Tak ada tanda-tanda kesedihan di raut muka beliau. Beliau tampak tabah meskipun semua tahu itu hanya pura-pura. Waktu itu, justru ibu yang kembali menangis dengan keras karena melihat lebam di seluruh tubuh bapak. Melihat ibu menangis, bapak tersenyum. Lalu, beliau menggandeng tangan ibu dan mengajak kami makan bersama.
*
Paginya, Lek Warno datang bersama kyai Sobirin. Ketika kutemui, Lek Warno berkata bahwa ia mengundang kyai Sobirin agar beliau mau membantu mendoakan bapak. Di dalam kamar, ibu dan kakak menyambut mereka. Merasa lebih tenang, aku pamit untuk mandi membersihkan badan yang kotor karena perjalanan panjang kemarin sore.

Seusai mandi, aku merasakan ketegangan menyelimuti kamar. Kakakku tampak di depan sedang menelepon para kerabat, meminta doa agar bapak diberi kemudahan. Di dalam, kulihat ibu, Lek Warno dan Nia sedang membacakan surat Yassin dipandu oleh kyai Sobirin. Aku memilih diam mendengarkan dan berjaga untuk segala situasi. Meskipun aku mencoba bersiap dengan kemungkinan, tapi diam-diam aku berdoa agar bapak diberi kesembuhan. Aku masih belum bisa setabah beliau, mengakrabi kesedihan juga kehilangan. Aku masih memerlukan bapak sebagai guru dan untuk itulah aku berharap. Lagipula, siapa yang berhak menentukan usia manusia?

Sayang, harapanku tidak bertahan lama. Sekitar satu jam setelah itu bapak mulai kehabisan tenaganya. Beliau mulai kepayahan. Setelah tenang yang tak berkesudahan, nafas bapak mulai tak beraturan. Aku yang beberapa kali mengikuti proses sakaratul maut paham bahwa waktu bapak tidak lama lagi. Aku merapat ke kaki bapak dan memegangnya. Konon malaikat pencabut nyawa melakukan eksekusi mulai dari kaki. Ternyata kaki beliau dingin. Mungkin saat ini Izrail sedang menunaikan tugasnya.

“Ngiik… Ngiiikkkk… Ngiiiiikkkk..”

Kulihat napas bapak memburu. Seisi kamar panik. Kyai Sobirin tidak berhenti membaca Yassin. Sedangkan Lek Warno terlihat mencoba menenangkan ibu yang mulai mengeluarkan tangisnya kembali.

“Pak… Pak.. Sadar pak..” jerit ibu. Tangis beliau pecah lebih keras dari sebelumnya.

"Sudahlah. biarkan dia pergi. Kasihan. Kasihan dia," kata Lek Warno sambil memegangi ibu yang mulai berontak.

Pikiranku ke mana-mana. Aku hampir tak tahan melihat pemandangan ini. Aku semakin mendekat ke bapak. Kugenggam tangannya. Kugumamkan doa-doa makin cepat dan kubisikan kalimat-kalimat Allah di telinga bapak.

Cepat… Cepat… Dan makin cepa...

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un…

Lima menit kemudian, aku merasakan tenang yang luar biasa. Bapak meninggal. Tangis ibu pun reda. Tinggal samar-samar suara isak di mana-mana. Isak ibu. Isak kakak. Isak adik-adik. Juga isakku yang masih juga kutahan. Aku ingin seperti bapak. Aku ingin tabah seperti bapak. Aku tak boleh menangis meskipun saat itu pertahananku sudah hampir jebol.

Sesaat kemudian, kututup mata bapak. Kuselimuti tubuh orang yang mendidikku dengan sekuat tenaganya, orang yang dulu pernah mengajariku banyak hal dengan diamnya.

Ketika aku hendak menelepon istriku mengabari hal ini, tiba-tiba telepon genggamku berdering terlebih dahulu. Kuangkat dan…

“PAK, CEPAT PULANG! ANAK KITA DITEMBAK APARAT..”

Piass!

Keping-Keping Cermin

Aku adalah orang yang kuperhatikan. Aku suka sekali ketika semua orang bergerak di depanku, mendadak termenung menatapku untuk melihat sisi terdalam dari diri mereka, lalu dengan bibir berat mereka bertanya padaku. Sekarang pun aku sedang begitu. Memerhatikan tanpa sepengetahuan mereka, menelisik apa yang mereka pikirkan, di balik cermin raksasa yang retak berbulan-bulan, seperti seseorang yang mencinta diam-diam.

Rama tak bosan mengingatkan bahwa garpu hanyalah alat bantu, dilarang dipakai untuk memasukkan makanan ke mulut kalau masih di tangan kiri, karena hanya setan yang makan dengan tangan itu. Mereka berdoa dengan mata terpejam, lalu saat membuka mata dan akan mulai makan, mereka melihat Haris si sulung berdoa dengan tangan terkatup. Lalu Haris menyentuh kening, dada, serta pundak kiri dan kanan. Bapa, Putranya—Yesus Kristus, dan Roh Kudus, katanya. Yang lain tercengang. Setelah itu Haris mengaku bahwa ia sudah dibaptis. Semuanya pun terjadi begitu cepat.

Ruangan penuh dengan ucapan istighfar dan Masya Allah yang menggaung dari bibir Rama. Aulia terdiam di kursinya. Rama mempertanyakan kenapa Haris bisa segila itu. Rama dan Haris bertengkar mulut, Aulia yang sudah lama tahu membela abangnya, sedangkan Suci bingung memilih pihak yang mana dan mulai bercucuran air mata. Sampai Rama menggebrak meja, menyuruh semua orang diam, dan dengan suara selantang azan subuh di tengah keheningan pagi mengatakan bahwa ia tak bisa menerima orang yang tak seiman berada di rumahnya. Bahkan Suci gagal membuat suaminya menarik kata-katanya kembali. Anak sulungnya pun, tanpa bisa dicegah, membawa pakaian dan meninggalkan rumah.

Rama terdiam berdiri memandangiku di situ, sampai yang lain lelah dan beranjak, meninggalkannya bersama makanan yang telah dingin. Ia mengaku padaku merasa tanpa berhenti mengajarkan agama sejak anak-anaknya kecil. Lantas ia berteriak padaku, bagian mana yang salah? Dadanya naik turun. Ketika aku tak bisa memberikan jawaban, ia melempariku dengan piring sampai cerminku ini retak.

Sekarang hanya terdengar suara dentang-denting sendok dan garpu melawan piring beling. Suci melirik-lirik tak nyaman ke Aulia yang sedari tadi cekikikan dengan ponselnya. Makanannya dingin diabaikan terlalu lama. Aku pindah ke bagian cembung sendok Aulia yang masih tertelungkup di piring, untuk melihat wajah Suci lebih dekat, dan kutangkap bibirnya terbuka sejenak lalu terkatup lagi.

“Apa kabar temanmu itu, siapa tuh, Wirya?”

Malah Rama yang memulai percakapan. Aku pindah ke cermin retak lagi agar dapat melihat mimik Rama dan Aulia lebih jelas.

“Pacar, Yah, bukan temen,” kata Aulia tanpa melepaskan pandangan dari layar ponsel. “Dia baik-baik aja kok. Dia ditempatin di KPP Pekalongan, pilihan keduanya. Besok dia yang jemput aku di Solo.”

“Kalau kamu lagi bareng temen spesialmu itu,” kata Rama, kukuh mengindari sebutan pacar. “tapi kamu sibuk ngobrol sama cowok lain di HP, dia cemburu nggak?”

“Papa nanya apaan sih,” kata Aulia sambil mengetik pesan. “Ya pastilah cemburu.”

“Kenapa?”

“Ya karena Wirya sayang banget sama Aulia.”

Aulia terus saja mengobrol dengan Wirya, terbahak sendirian, membuat yang lain ingin tahu apa yang ditertawakan, untuk ikut tertawa kalau bisa.

“Ini makan malam terakhir kita sebelum kamu berangkat,” kata Rama. “Tapi kamu malah bikin papa cemburu.”

Rama menelungkupkan sendok dan garpunya lalu bangkit sampai kursinya berderit. Aulia berhenti mengetik. Tawanya seketika meredup, bekas-bekas berupa senyum pun tak ada. Matanya menatap lurus, kosong, tersadar ia tak perlu bertanya kenapa, kemudian menoleh ke arah Rama yang sedang berjalan menjauh tanpa menoleh. Ia meletakkan ponselnya dan makan sampai habis tanpa kata. Pesan dari Wirya pun tak lagi dibaca.

Rama biasa langsung menyikat gigi setelah makan. Aku segera ke wastafel. Kemudian aku dan Rama saling bertatapan, sikat giginya mengacung di tangan. Lantas ia membungkuk, berkumur-kumur, dan meletakkan sikat giginya di gelas sampai berdenting. Dengan kedua tangan berpangku pada wastafel, ia menatapku. Dengan terus menuntut jawaban yang memuaskan, ia bertanya padaku, siapkah aku ditinggal anakku lagi yang lebih memilih keputusannya sendiri?

*
Suci mengetuk pintu, membuka dan mengintip dari celah, menanyakan apakah Aulia sedang sibuk atau tidak, dan meminta izin masuk. Aulia yang sedang mengetik untuk blognya berbalik dan mempersilakan Suci menghampirinya. Di tepi tempat tidur Suci duduk, meletakkan keranjang baju bersih di samping, memerhatikan kamar Aulia yang semakin lega serta barang-barangnya yang sudah dikemas, dan ia menghela napas, memastikan napasnya cukup untuk mengutarakan semuanya.

“Jadinya kamu beli tiket dari agen mana?” Suci berbasa-basi lebih dulu, mengetes apakah ia masih sanggup mengutarakan pikirannya atau tidak.

“Dari RC Tour Travel, Mah,” kata Aulia. “Lebih murah daripada harga tiket dari garudanya sendiri.”

“Oh gitu.” Suci terdiam sejenak, kemudian dengan cepat ia melepas napasnya bersama pikiran yang telah menggantung lama. “Mama masih belum terima kamu lebih milih penempatan yang deket sama Wirya daripada sama mama.”

Suci menarik napas lagi. “Dari awal juga mama nggak pernah ngasih restu ke kalian.”

“Aulia pacarannya juga serius kok, bukan cuma seneng-seneng, dan kalau mama masih khawatir akan terjadi apa-apa, Aulia tahu batas.”

“Mama papa enggak pake pacaran dulu,” kata Suci. “Bisa kok jaga pernikahan sampe tiga puluh tahun. Punya dua anak sehat semua. Mama nyekolahin kamu dari TK sampe kuliah. Mama masakin kamu, sarapan, makan siang, makan malem. Mama nyuciin baju kamu. Mama ngebeliin barang-barang yang kamu mau dan butuhin. Mama ngejalanin kodrat mama sebagai orang tua, sekarang kamu dong yang harus ngejalanin kodrat anak, berbakti sama orang tua, nurut sama kata mama. Sakit hati mama kamu lebih milih Wirya.”

Aulia pernah membicarakan masalah ini dengan Wirya sebelum keputusan penempatan mereka keluar, setelah mereka pembekalan sebelum magang dan mulai memikirkan penempatan.. Mereka duduk di kursi restoran dan aku memandangi dari cermin di tiang.

“Kenapa enggak milih satu pun KPP di Palembang?” kata Wirya.

“Untuk apa di rumah kalau nggak ngerasa di rumah?” kata Aulia lalu menyedot jusnya. “Aku terlalu sering berantem sama mama papa sejak Kak Haris pergi. Daripada jadi anak durhaka mending jadi anak mandiri.” Ia menatap Wirya. “Sekarang semuanya bikin aku bingung. Katanya kasih orang tua itu kayak panas matahari ke bumi, enggak terbalaskan, tapi kok sekarang aku nggak ngerasain kehangatannya ya?”

Wirya merangkul pundaknya dan menyenderkan kepalanya di kepala dia sendiri dan mengusap-usap rambut pelipisnya. “Mungkin orang tua kamu cuma lupa atau belum tahu caranya sayang sama orang lain selain karena kodrat,” kata Wirya. Aulia terpejam nyaman. “Dan kalau kamu merasa tahu caranya, kamu yang harus ngajarin mereka. Mungkin penghalang kehangatan mereka cuma awan mendung. Tinggal kita yang harus bisa menjadikannya hujan.”

Aulia merangkul perut Wirya yang kemudian mendekap dan mengusap-usap punggungnya, membuatnya begitu nyaman. Aulia memandangiku yang memerhatikannya dari belakang. Matanya menyampaikan pertanyaan dari benaknya, apa yang berbeda dari rasa ini dengan rasa sayang orang tuanya, kenapa aku merasa rasa sayang Wirya begitu lengkap?

Dari dinding kamar Aulia lagi, aku memandangi Suci, menunggu ucapan Aulia yang terdiam begitu lama mengingat ucapan Wirya itu.

“Kalau mama sayang sama Aulia cuma karena kodrat,” kata Aulia. Suaranya begitu tenang. “Apa bedanya kita sama hewan? Induk burung juga gitu ke anaknya. Lagian kalau soal kodrat, udah kodratnya juga anak bakal ninggalin orang tuanya. Yang ngebedain cuma waktu. Sekarang atau nanti.”

Aulia menatap lurus ke mata Suci. Diserang seperti itu, Suci membuang mukanya. Napasnya menderu-deru, ia beristighfar berkali-kali sambil memompa dadanya agar lebih luas dan mampu menghilangkan kesesakan. Butuh beberapa menit sampai ia tenang dan memandangi Aulia lagi, tetapi ia memilih beranjak dari kamar itu.

Suci masuk ke kamarnya. Aku bertandang ke meja riasnya. Ia menjatuhkan keranjang dan dirinya di kasur, menghela napas beberapa kali sebelum mulai melipat pakaian, celana dalam, dan kaus kaki. Saat melipat baju Aulia, ia bergeming, memandangi dinding. Seakan di sana ada jawaban, lalu ia memandangi suaminya yang sedang membaca. Ia menghela napas sekali lagi.

“Sekarang Haris nggak pernah ngubungin lagi,” kata Suci sembari lanjut melipat pakaian. “Ntar Aulia juga paling gitu. Asyik sama si Wirya. Apalagi dia sibuk kerja. Dan kalau kita sering ngubungin dia buat nanya kabar, pasti ganggu.” Ia berhenti untuk menghela napas dan beristighfar. “Mama cuma nggak mau bener-bener ditinggal anak mama lagi.”

Rama menatap Suci, terdiam tak tahu tanggapan yang tepat. Lantas Suci menyusun baju-baju di keranjang dan meletakkannya di meja pojok untuk disetrika besok. Ia duduk di meja rias, menatapku. Wajahnya putih bersih, kulitnya kencang, orang takkan menyangka umurnya empat puluhan. Seperti kebiasaan yang telah ia lakukan bertahun-tahun, ia mengolesi semua bagian wajahnya dengan Oxygen Boost Cream keluaran Oriflame. Lalu ia bergeming, menatapku dalam-dalam.

“Kalau sudah kodratnya orang tua untuk membesarkan anak dan melepaskan anak yang sudah dewasa karena hewan pun begitu,” kata Suci, “Kenapa cuma manusia yang dikasih ikatan perasaan antara orang tua dan anaknya? Kenapa cuma manusia yang saat melepaskan anak-anaknya rasanya begitu berat?”
*
Di kursi kerja, Aulia mengangkat ponselnya yang sepi. Sudah hampir seminggu ia tinggal di Salatiga, tetapi belum ada telepon bahkan SMS dari Suci atau Rama. Kemudian ia tersenyum-senyum sendiri. Aku memerhatikanku dari layar ponselnya yang masih gelap. Biasanya ia begitu kalau teringat pada Wirya dan hendak menghubunginya. Benar saja. Ia menekan tombol. Layarnya menyala terang jadi aku tak bisa memandangi mimiknya dari depan, tetapi aku tahu apa yang ia ketik di layar.

Ay, lagi ngapain? Udah makan?
Bosen banget nih seharian rekam SPT, pundak sampe sakit, mata kecapean liat komputer melulu. Huaah.
Coba kalau kerjaanku liat kamu. Seharian pun pasti nggak bosen. :p
Nggak sabar Minggu ini nemenin kamu pulang terus main ke Batur Raden.

Saat Aulia hendak menekan tombol kirim, sesuatu mencegahnya hingga senyumnya redup. Layar ponselnya menggelap, terlalu lama diabaikan, dan aku bisa melihat mimiknya lagi yang bingung sembari ia menggoyang-goyangkan ponselnya. Ia termangu sejenak, memandangiku, memikirkan apa yang kulakukan. Lantas ia menghapus pesan tadi dan mengganti nomor tujuan pesan.

Lagi pada ngapain? Udah pada makan belum?
Di kantor kerjaanku cuma ngerekam SPT sih, tapi tadi kepala seksi muji aku kerjanya cepet banget. Yeay! :)
Kenapa pada nggak ngubungin deh? :(
Aku kangen banget sama mama papa nih.

Monday, October 1, 2012

Rindu

Harunya malam mengingatkanku pada beberapa minggu lalu, tepat di dimalam ibuku berulang tahun. Canda tawa, senda gurau, dan segala keakraban yang ada mengingatkanku, bukan hanya mengingatkan, bahkan serasa kembali merasakan malam tersebut kembali.

*********

Kawan-kawan lama, sanak saudara yang telah hilang, semua kerabat akrab hadir di malam itu. Kerinduanku akan keluarga hilang, kerinduanku akan sahabat sirna. Ya… walaupun hanya semalam. Ya… walaupun hanya di tempat sederhana, sebuah rumah makan berlatar tema mediteran dengan tambahan ornamen warna pink dan putih berbentuk bunga yang kami pesan khusus untuk acara itu. Lampu-lampu bercahaya redup, lagu-lagu romantis, sofa yang nyaman, dan makanan khas timur tengah favorit kami membuat malam itu menjadi sempurna. Untuk ibuku, bahkan kami semua. Tirai-tirai menjuntang membuat suasana timur tengah jadi lebih kental.

Obrolan pun dimulai. Semua komat-kamit, seakan tak ada yang menghentikan mulut kami untuk berbicara. Dari yang semula hanya basa-basi, tiba-tiba berubah menjadi keriuhan tawa-tawa pertanda rindu. Menanyakan kabar, menanyakan kegiatan, menanyakan jodoh, bahkan menanyakan hal-hal yang tidak penting untuk ditanyakan. Komentar-komentar kecil, sampai komentar bernada sinis pun tak mau kalah untuk terlontar. Tak ada kesedihan, tak ada keraguan, tak ada kekhawatiran terpancar di wajah kami. Seakan larut dalam suasana yang kami ciptakan sendiri. Bukan, bukan terlarut. Tenggelam. Seakan tak ada proses kehidupan yang biasa para awam katakan.

Di jam menjelang pertengahan malam, muncul kecemasan di wajah ibuku. Ayahku tak kunjung muncul. Kami pun mulai bertanya-tanya, dimanakah dia, dimanakah sang pemimpin keluarga kami. Walaupun ini hanyalah kejutan yang biasa dilakukan oleh para awam, dengan berpura-pura tak datang, tapi kecemasan itu cukup terasa di wajah ibuku. Keheningan mulai muncul. Riuh tawa berkurang. Canda gurau pun menghilang.

Ponsel adalah jawaban yang paling mungkin untuk menjawab itu. Satu kali, dua kali, tiga kali, bahkan sampai tak terhitung mencoba menghubungi. Berulang kali pun ku katakan kepada ibuku untuk tenang dan percaya bahwa ayah akan datang. Beberapa menit berlalu, yang ditunggu tak kunjung datang. Pasrah. Acara harus tetap berjalan, ada atau tidak adanya ayahku.

Tepat pukul 00.00, kue ulang tahun berbentuk piramid datang. Diiringi para pelayan yang dikomandoi langsung oleh ‘sang jenderal’, Ayahku. Sesosok pria setengah baya, dengan rambut yang mulai memutih dan potongan cepak ala angkatan bersenjata. Meskipun kenyataannya, dia hanyalah kepala rumah tangga biasa.
Tiga, dua, satu, Selamat ulang tahun. Terdengar riuh dengan teriakan yang sama. Kuperhatikan dengan seksama, air mata ibuku seakan kehilangan tembok pembendungnya. Mengalir dengan deras. Aku tahu apa penyebabnya. Disamping ini adalah perayaan ulang tahun pertama untuk ibuku, seumur hidupnya, pesta ini juga merupakan pesta perpisahanku. Diadakan khusus, sebelum aku pergi menjadi pelayan masyarakat di pulau seberang. Hanya sebagai pelayan masyarakat, aku harus meninggalkan orang-orang tercinta.

Kuberikan tissue untuk menyeka air mata ibuku. Dengan tangan gemuknya, disertai senyuman di bibir indahnya, dia memelukku. Kupeluk erat tubuhnya, kurasakan benar aroma tubuhnya, ku petakan bentuk badannya yang gemuk di otakku. Agar, aku bisa terus mengingatnya di pulau seberang nanti. Sebagai suplemen tanpa batas, penguat hati, dan pengokoh tujuan.

Melihat kejadian ini, ayahku seakan tak mau kalah untuk memelukku. Kita berpelukan. Sempat terucap kata maaf. Bukan maksud membuat mereka semakin khawatir, tapi agar beban di pundakku hilang untuk meninggalkan mereka. Tak terbayang bagaimana hidupku di pulau seberang tanpa didampingi kedua orang tua ku. Mungkin aku manja, mungkin tak ubahnya seperti balita, tapi aku memang butuh mereka. Sembari melepaskan pelukan, kugenggam tangan mereka. Kutatap wajah dan mata mereka dalam-dalam. Dengan ekspresi tegar yang dibuat-dibuat, kulemparkan senyumku kepada mereka. Semoga saja cukup mewakili apa yang aku ingin sampaikan kepada mereka.

Setelah disalami oleh semua kerabat dan sanak saudara, ibuku memberikan sambutan. Rasa terima kasih pun dipanjatkan oleh ibuku dengan di dampingi olehku dan ayahku. Dan dalam sambutannya itu, ibu rupa-rupanya masih sempat membuatku terharu. Bersama dengan ayahku,  mereka berdua silih berganti memuji dan membangga-banggakan aku. Anak yang selalu mereka ceritakan dengan penuh semangat membara. Anak yang selalu mereka pamerkan kepada teman-teman mereka. Anak yang selalu mereka sanjung. Anak yang takkan pernah mereka relakan untuk merantau. Walaupun di dalam hati, aku pun tahu, aku tak sesempurna itu.

Tapi begitulah orang tua. Mereka selalu bangga dan selalu mendukung anaknya, apapun yang dilakukan. Suasana ceria pun berubah seketika menjadi suasana haru. Semua orang seakan berebut untuk melihatku. Kuperhatikan mereka dengan seksama. Beberapa mata-mata yang tadinya ceria, seakan terlihat sendu dan meneteskan air mata. Bermacam reaksi terjadi. Dari mulai menyalamiku, memberiku wejangan, memelukku, juga mencium keningku. Bahkan, seorang sahabat berusaha menyita ponselku, hanya agar aku tak jadi berangkat.

Senyum kulemparkan pada mereka semua. Kusampaikan rasa terima kasihku pada mereka. Sendu, haru, dan rindu. Tiga kata itu muncul di permukaan melalui wajah-wajah mereka. Sebenarnya tak ingin. Sebenarnya tak sanggup. Sampai batas waktu yang ku sendiri pun tak tahu. Tapi ini konsekuensi dari jalan yang telah aku ambil. Pilihan yang sulit. Tapi yang pasti, ini merupakan pilihan yang terbaik untukku dari Tuhan. Mungkin, Dia menginginkan ku agar aku berkeliling nusantara. Atau mungkin, Dia ingin agar aku mempunyai keluarga di pulau tempat tinggal ku yang baru. Semua jawaban dalam tanyaku merupakan suatu pembenaran yang cukup menenangkan hati ini.

Semua makanan yang dipesan telah habis dilahap. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul tiga. Satu-persatu tamu pergi, kembali ke peraduan masing-masing. Tinggal hanya menyisakan tiga orang tuan rumah, aku dan ayah ibuku.

Kutatap lagi wajah mereka. Rasa ikhlas, dan pasrah tersirat di permukaan wajah mereka. Kemudian kutatap sekali lagi wajah itu, dalam-dalam, untuk meyakinkanku. Ya benar, rasa ikhlas dan pasrah itu kian terlihat jelas di wajah mereka. Seakan tak ada apa-apa yang akan terjadi di depan, kami berbicara banyak hal.
Obrolan itu terus berlanjut, dari mulai meninggalkan lokasi, hingga sampai ke rumah. Layaknya kawan lama, kami tertawa, bercanda, dan saling melemparkan ledekan. Dan terus berlnajut sampai kami semua lupa waktu.

Kuperhatikan jam dinding di ruang tamuku, tak terasa jam delapan pagi sudah. Sudah saatnya aku tidur. Mengisi tenaga untuk perjalananku mengabdi kepada negara.

*********

Di kamar 3x4 yang telah renta, di sebuah tempat tidur yang telah usang, kurebahkan tubuhku. Kurasakan air mata mulai menetes di pipiku, berbarengan dengan hilangnya lamunan hayalku. Hayalan malam sebelum kuberada di tempat asing ini. Aku rindu ibuku. Begitu hebatnya rindu ini, membuat pikiranku jadi tak karuan. Aku tak dapat menghilangkan wajah ibuku di kepalaku. Padahal, terpaut jarak ribuan kilometer jauhnya.
Ah sudahlah, ini memang takdirku. Harus memendam semua rindu, untuk menunaikan amanat Negara, sebagai pelayan masyarakat, menghimpun penerimaan negara.