Showing posts with label marlihaza. Show all posts
Showing posts with label marlihaza. Show all posts

Tuesday, October 2, 2012

Keping-Keping Cermin

Aku adalah orang yang kuperhatikan. Aku suka sekali ketika semua orang bergerak di depanku, mendadak termenung menatapku untuk melihat sisi terdalam dari diri mereka, lalu dengan bibir berat mereka bertanya padaku. Sekarang pun aku sedang begitu. Memerhatikan tanpa sepengetahuan mereka, menelisik apa yang mereka pikirkan, di balik cermin raksasa yang retak berbulan-bulan, seperti seseorang yang mencinta diam-diam.

Rama tak bosan mengingatkan bahwa garpu hanyalah alat bantu, dilarang dipakai untuk memasukkan makanan ke mulut kalau masih di tangan kiri, karena hanya setan yang makan dengan tangan itu. Mereka berdoa dengan mata terpejam, lalu saat membuka mata dan akan mulai makan, mereka melihat Haris si sulung berdoa dengan tangan terkatup. Lalu Haris menyentuh kening, dada, serta pundak kiri dan kanan. Bapa, Putranya—Yesus Kristus, dan Roh Kudus, katanya. Yang lain tercengang. Setelah itu Haris mengaku bahwa ia sudah dibaptis. Semuanya pun terjadi begitu cepat.

Ruangan penuh dengan ucapan istighfar dan Masya Allah yang menggaung dari bibir Rama. Aulia terdiam di kursinya. Rama mempertanyakan kenapa Haris bisa segila itu. Rama dan Haris bertengkar mulut, Aulia yang sudah lama tahu membela abangnya, sedangkan Suci bingung memilih pihak yang mana dan mulai bercucuran air mata. Sampai Rama menggebrak meja, menyuruh semua orang diam, dan dengan suara selantang azan subuh di tengah keheningan pagi mengatakan bahwa ia tak bisa menerima orang yang tak seiman berada di rumahnya. Bahkan Suci gagal membuat suaminya menarik kata-katanya kembali. Anak sulungnya pun, tanpa bisa dicegah, membawa pakaian dan meninggalkan rumah.

Rama terdiam berdiri memandangiku di situ, sampai yang lain lelah dan beranjak, meninggalkannya bersama makanan yang telah dingin. Ia mengaku padaku merasa tanpa berhenti mengajarkan agama sejak anak-anaknya kecil. Lantas ia berteriak padaku, bagian mana yang salah? Dadanya naik turun. Ketika aku tak bisa memberikan jawaban, ia melempariku dengan piring sampai cerminku ini retak.

Sekarang hanya terdengar suara dentang-denting sendok dan garpu melawan piring beling. Suci melirik-lirik tak nyaman ke Aulia yang sedari tadi cekikikan dengan ponselnya. Makanannya dingin diabaikan terlalu lama. Aku pindah ke bagian cembung sendok Aulia yang masih tertelungkup di piring, untuk melihat wajah Suci lebih dekat, dan kutangkap bibirnya terbuka sejenak lalu terkatup lagi.

“Apa kabar temanmu itu, siapa tuh, Wirya?”

Malah Rama yang memulai percakapan. Aku pindah ke cermin retak lagi agar dapat melihat mimik Rama dan Aulia lebih jelas.

“Pacar, Yah, bukan temen,” kata Aulia tanpa melepaskan pandangan dari layar ponsel. “Dia baik-baik aja kok. Dia ditempatin di KPP Pekalongan, pilihan keduanya. Besok dia yang jemput aku di Solo.”

“Kalau kamu lagi bareng temen spesialmu itu,” kata Rama, kukuh mengindari sebutan pacar. “tapi kamu sibuk ngobrol sama cowok lain di HP, dia cemburu nggak?”

“Papa nanya apaan sih,” kata Aulia sambil mengetik pesan. “Ya pastilah cemburu.”

“Kenapa?”

“Ya karena Wirya sayang banget sama Aulia.”

Aulia terus saja mengobrol dengan Wirya, terbahak sendirian, membuat yang lain ingin tahu apa yang ditertawakan, untuk ikut tertawa kalau bisa.

“Ini makan malam terakhir kita sebelum kamu berangkat,” kata Rama. “Tapi kamu malah bikin papa cemburu.”

Rama menelungkupkan sendok dan garpunya lalu bangkit sampai kursinya berderit. Aulia berhenti mengetik. Tawanya seketika meredup, bekas-bekas berupa senyum pun tak ada. Matanya menatap lurus, kosong, tersadar ia tak perlu bertanya kenapa, kemudian menoleh ke arah Rama yang sedang berjalan menjauh tanpa menoleh. Ia meletakkan ponselnya dan makan sampai habis tanpa kata. Pesan dari Wirya pun tak lagi dibaca.

Rama biasa langsung menyikat gigi setelah makan. Aku segera ke wastafel. Kemudian aku dan Rama saling bertatapan, sikat giginya mengacung di tangan. Lantas ia membungkuk, berkumur-kumur, dan meletakkan sikat giginya di gelas sampai berdenting. Dengan kedua tangan berpangku pada wastafel, ia menatapku. Dengan terus menuntut jawaban yang memuaskan, ia bertanya padaku, siapkah aku ditinggal anakku lagi yang lebih memilih keputusannya sendiri?

*
Suci mengetuk pintu, membuka dan mengintip dari celah, menanyakan apakah Aulia sedang sibuk atau tidak, dan meminta izin masuk. Aulia yang sedang mengetik untuk blognya berbalik dan mempersilakan Suci menghampirinya. Di tepi tempat tidur Suci duduk, meletakkan keranjang baju bersih di samping, memerhatikan kamar Aulia yang semakin lega serta barang-barangnya yang sudah dikemas, dan ia menghela napas, memastikan napasnya cukup untuk mengutarakan semuanya.

“Jadinya kamu beli tiket dari agen mana?” Suci berbasa-basi lebih dulu, mengetes apakah ia masih sanggup mengutarakan pikirannya atau tidak.

“Dari RC Tour Travel, Mah,” kata Aulia. “Lebih murah daripada harga tiket dari garudanya sendiri.”

“Oh gitu.” Suci terdiam sejenak, kemudian dengan cepat ia melepas napasnya bersama pikiran yang telah menggantung lama. “Mama masih belum terima kamu lebih milih penempatan yang deket sama Wirya daripada sama mama.”

Suci menarik napas lagi. “Dari awal juga mama nggak pernah ngasih restu ke kalian.”

“Aulia pacarannya juga serius kok, bukan cuma seneng-seneng, dan kalau mama masih khawatir akan terjadi apa-apa, Aulia tahu batas.”

“Mama papa enggak pake pacaran dulu,” kata Suci. “Bisa kok jaga pernikahan sampe tiga puluh tahun. Punya dua anak sehat semua. Mama nyekolahin kamu dari TK sampe kuliah. Mama masakin kamu, sarapan, makan siang, makan malem. Mama nyuciin baju kamu. Mama ngebeliin barang-barang yang kamu mau dan butuhin. Mama ngejalanin kodrat mama sebagai orang tua, sekarang kamu dong yang harus ngejalanin kodrat anak, berbakti sama orang tua, nurut sama kata mama. Sakit hati mama kamu lebih milih Wirya.”

Aulia pernah membicarakan masalah ini dengan Wirya sebelum keputusan penempatan mereka keluar, setelah mereka pembekalan sebelum magang dan mulai memikirkan penempatan.. Mereka duduk di kursi restoran dan aku memandangi dari cermin di tiang.

“Kenapa enggak milih satu pun KPP di Palembang?” kata Wirya.

“Untuk apa di rumah kalau nggak ngerasa di rumah?” kata Aulia lalu menyedot jusnya. “Aku terlalu sering berantem sama mama papa sejak Kak Haris pergi. Daripada jadi anak durhaka mending jadi anak mandiri.” Ia menatap Wirya. “Sekarang semuanya bikin aku bingung. Katanya kasih orang tua itu kayak panas matahari ke bumi, enggak terbalaskan, tapi kok sekarang aku nggak ngerasain kehangatannya ya?”

Wirya merangkul pundaknya dan menyenderkan kepalanya di kepala dia sendiri dan mengusap-usap rambut pelipisnya. “Mungkin orang tua kamu cuma lupa atau belum tahu caranya sayang sama orang lain selain karena kodrat,” kata Wirya. Aulia terpejam nyaman. “Dan kalau kamu merasa tahu caranya, kamu yang harus ngajarin mereka. Mungkin penghalang kehangatan mereka cuma awan mendung. Tinggal kita yang harus bisa menjadikannya hujan.”

Aulia merangkul perut Wirya yang kemudian mendekap dan mengusap-usap punggungnya, membuatnya begitu nyaman. Aulia memandangiku yang memerhatikannya dari belakang. Matanya menyampaikan pertanyaan dari benaknya, apa yang berbeda dari rasa ini dengan rasa sayang orang tuanya, kenapa aku merasa rasa sayang Wirya begitu lengkap?

Dari dinding kamar Aulia lagi, aku memandangi Suci, menunggu ucapan Aulia yang terdiam begitu lama mengingat ucapan Wirya itu.

“Kalau mama sayang sama Aulia cuma karena kodrat,” kata Aulia. Suaranya begitu tenang. “Apa bedanya kita sama hewan? Induk burung juga gitu ke anaknya. Lagian kalau soal kodrat, udah kodratnya juga anak bakal ninggalin orang tuanya. Yang ngebedain cuma waktu. Sekarang atau nanti.”

Aulia menatap lurus ke mata Suci. Diserang seperti itu, Suci membuang mukanya. Napasnya menderu-deru, ia beristighfar berkali-kali sambil memompa dadanya agar lebih luas dan mampu menghilangkan kesesakan. Butuh beberapa menit sampai ia tenang dan memandangi Aulia lagi, tetapi ia memilih beranjak dari kamar itu.

Suci masuk ke kamarnya. Aku bertandang ke meja riasnya. Ia menjatuhkan keranjang dan dirinya di kasur, menghela napas beberapa kali sebelum mulai melipat pakaian, celana dalam, dan kaus kaki. Saat melipat baju Aulia, ia bergeming, memandangi dinding. Seakan di sana ada jawaban, lalu ia memandangi suaminya yang sedang membaca. Ia menghela napas sekali lagi.

“Sekarang Haris nggak pernah ngubungin lagi,” kata Suci sembari lanjut melipat pakaian. “Ntar Aulia juga paling gitu. Asyik sama si Wirya. Apalagi dia sibuk kerja. Dan kalau kita sering ngubungin dia buat nanya kabar, pasti ganggu.” Ia berhenti untuk menghela napas dan beristighfar. “Mama cuma nggak mau bener-bener ditinggal anak mama lagi.”

Rama menatap Suci, terdiam tak tahu tanggapan yang tepat. Lantas Suci menyusun baju-baju di keranjang dan meletakkannya di meja pojok untuk disetrika besok. Ia duduk di meja rias, menatapku. Wajahnya putih bersih, kulitnya kencang, orang takkan menyangka umurnya empat puluhan. Seperti kebiasaan yang telah ia lakukan bertahun-tahun, ia mengolesi semua bagian wajahnya dengan Oxygen Boost Cream keluaran Oriflame. Lalu ia bergeming, menatapku dalam-dalam.

“Kalau sudah kodratnya orang tua untuk membesarkan anak dan melepaskan anak yang sudah dewasa karena hewan pun begitu,” kata Suci, “Kenapa cuma manusia yang dikasih ikatan perasaan antara orang tua dan anaknya? Kenapa cuma manusia yang saat melepaskan anak-anaknya rasanya begitu berat?”
*
Di kursi kerja, Aulia mengangkat ponselnya yang sepi. Sudah hampir seminggu ia tinggal di Salatiga, tetapi belum ada telepon bahkan SMS dari Suci atau Rama. Kemudian ia tersenyum-senyum sendiri. Aku memerhatikanku dari layar ponselnya yang masih gelap. Biasanya ia begitu kalau teringat pada Wirya dan hendak menghubunginya. Benar saja. Ia menekan tombol. Layarnya menyala terang jadi aku tak bisa memandangi mimiknya dari depan, tetapi aku tahu apa yang ia ketik di layar.

Ay, lagi ngapain? Udah makan?
Bosen banget nih seharian rekam SPT, pundak sampe sakit, mata kecapean liat komputer melulu. Huaah.
Coba kalau kerjaanku liat kamu. Seharian pun pasti nggak bosen. :p
Nggak sabar Minggu ini nemenin kamu pulang terus main ke Batur Raden.

Saat Aulia hendak menekan tombol kirim, sesuatu mencegahnya hingga senyumnya redup. Layar ponselnya menggelap, terlalu lama diabaikan, dan aku bisa melihat mimiknya lagi yang bingung sembari ia menggoyang-goyangkan ponselnya. Ia termangu sejenak, memandangiku, memikirkan apa yang kulakukan. Lantas ia menghapus pesan tadi dan mengganti nomor tujuan pesan.

Lagi pada ngapain? Udah pada makan belum?
Di kantor kerjaanku cuma ngerekam SPT sih, tapi tadi kepala seksi muji aku kerjanya cepet banget. Yeay! :)
Kenapa pada nggak ngubungin deh? :(
Aku kangen banget sama mama papa nih.

Sunday, July 8, 2012

Koin Dwicitra

Diana mendekapku. Aku merasakan kehangatan yang seketika membuatku lupa akan risauku. Merayap dari dada bersama butir-butir ketenangan ke seluruh penjuru tubuh. Aku memeluknya balik. Detak jantung kami beriringan lalu serentak tenang, dengan napas yang setempo pula. Inilah yang kuinginkan.

“Kamu mau kan nikah sama aku?” Aku meraih telapak tangannya dan mengelusnya. Tangannya sehalus selimut yang dapat mengusir gelisahku waktu aku kecil. Aku mempersiapkan diri untuk hal terburuk. Ini usahaku yang terakhir. Inilah maksudku memohon padanya untuk bertemu hari ini juga.

“Aku tak pernah berniat membuatmu sampai berpikir terlalu jauh seperti itu,” kata Diana. “Sungguh. Aku minta maaf.”

Aku hilang kata. Perlu waktu untuk merekatkan serpihan-serpihan kata di otak verbalku. “Kamu susah sekali kuhubungi. Aku sampai berpikir kamu tak mau melihat wajahku lagi.”

“Mungkin memang begitu,” kata Diana. Aku benci kata mungkin. Tak bisakah ia memberiku sebuah kepastian?

“Cinta itu layang-layang,” kataku. “Cuma ikatan yang bisa mempertahankannya di tengah deru embusan masalah.” Pandangan kami tertambat seabad. Aku menunggu persetujuannya atas pernyataanku tadi.

“Tak semua yang kamu pikirkan itu sesuai kenyataan,” kata Diana. Mungkin memang kelebihan Hari setara dengan kelebihanku sehingga aku dan pecundang itu masuk indifference Diana, menjadikannya substitusiku, membuatku tak istimewa lagi di matanya.

“Kamu lebih ingin bersama Hari ketimbang denganku?” Bagus. Kini aku menuduhnya. Logikaku yang tadinya lurus terarah membelok menuju asimtot, ketakberujungan yang penuh dengan ketakutanku akan kehilangannya.

“Aku sering kali memikirkannya.” Diana mendengus tertawa kemudian termangu lagi. Aku biasanya terdiam dan memandanginya ketika ia tertawa. Kemudian ia sadar lalu terdiam dan mencengkeram wajahku agar aku berhenti memandanginya. Sayang saat ini tidak. Aku rindu tawanya yang dulu, rindu kebiasaan remeh-temehnya saat tertawa.

“Kamu ingat kali pertama kita bertemu?” Aku berusaha melenturkan pembicaraan yang mulai sekaku interaksi wartawan dan narasumber ini, juga membangkitkan kenangan kami, menumbuhkan lagi perasaannya. Kamis 8 Maret 2007 pukul 14.09, aku sedang berlari-lari kecil di bagian perlengkapan mandi Hero. Aku berkeringat, terburu-buru dari kantor. Atasanku, Bu Yvone, menuntutku segera membeli parfum sebelum rapat dengan para pemegang saham yang dimulai sebentar lagi. Hidungnya yang sepeka penciuman anjing menganggapku kambing. Di kedua tanganku terdapat dua macam. Lantas Diana lewat. Aku sontak bertanya kepadanya yang mana yang lebih ampuh menutupi bau. Lalu ia memerhatikanku seperti pemindai bandara. Ia bilang aku butuh dua-duanya dan terdiam ketus kemudian tertawa, sambil meminta maaf bahwa yang barusan itu bercanda. Ketika aku membalas bahwa seharusnya aku mengambil karbol pembersih toilet saja, ia terbahak-bahak. Aku mulai suka cara tawanya itu. Menikmatinya sejenak. Gelombang suara tawanya membentur ruang hatiku yang sedang kosong, bergema di sana, terpantul-pantul tak habis-habisnya, sampai menggetarkan dinding-dindingnya. Ketika tersadar, aku buru-buru ke kasir, tetapi kembali lagi untuk menanyakan namanya dan berjanji untuk bertemu lagi di tempat dan waktu yang kami tentukan juga saat itu. Di situlah ketertarikan kami dimulai. “Itu cukup memalukan kalau dipikir-pikir.”

“Aku benar-benar sudah melupakannya.” Lima kata darinya tersebut sudah cukup bagiku untuk berasumsi bahwa inilah akhirnya. Tak perlu diungkit-ungkit lagi. Namun, aku butuh kejelasan. Aku butuh palang yang padat untuk bergantungan, bukan palang anggapan.

“Apa kesalahanku dulu memang sudah tak bisa dimaafkan lagi?” Memang aku mengingkari janjiku padanya, tetapi ia tak boleh bertingkah seakan aku selalu mengecewakannya, tak pernah membuatnya bahagia. Satu kesalahan dibiarkan begitu saja membakar semua perbuatan manisku. Aku berhak dianggap sebagai lelaki yang bisa menyenangkan hatinya di banyak kesempatan.

Diana tersenyum. Seperti sebuah pelangi terbalik. Aku takjub. Karya paling sempurna dari sang Pencipta. Tak ingin pelangi itu memudar. Namun, aku kembali bertanya-tanya. Ia tersenyum karena semua hal manis yang kulakukan atau karena ia yakin semuanya akan berakhir dengan cara baik-baik?

“Tersenyumlah sekali lagi. Aku ingin lihat.” Bukan, bukan hanya sekali. Aku ingin melihat senyuman itu sampai tak ada bintang yang bersinar di luar angkasa. Setiap pagi sebelum mentari menyundut. Setiap malam sebelum lelap menjebak.

“Itu tak berasal dari hatiku.” Wajahnya seperti permukaan air tenang, begitu datar, tak ada riak, tetapi dapat membuatku tenggelam dan kehabisan napas.

“Kau sulit sekali kuhubungi. Lama sekali kita tak bertemu.” Aku memang punya cinta tetap padanya, yang ukurannya takkan dapat diubah dengan kondisi apapun. Aku juga punya cinta variabel, yang sangat bergantung kepada sambutan hangatnya. Namun bila cinta variabel itu sudah nol, antibodiku pun bisa perlahan memunahkan cinta tetapku. Aku tak ingin sakit merugi, mencinta sendiri.

Diana menyejajarkan pupil matanya dengan pupilku. Matanya memancarkan jawaban berbentuk sandi-sandi cahaya yang tak kumengerti. Aku pun tak bisa mengartikan kurva-kurva yang membentuk ekspresi wajahnya.

“Aku menyesal pernah membuatmu kecewa sampai kamu seperti tak ingin melihatku lagi,” kataku. “Aku minta maaf lagi kalau kau masih kecewa padaku.” Permintaanku padanya hanya kepercayaan, tetapi ia habis persediaan. Maka takkan ada ekuilibrium yang akan mempertemukan harapan kami. Aku sadar harga diriku akan terus merosot seiring meningkatnya kuantitasku mengemis kepercayaan padanya, tetapi aku sudah hilang kendali atas logikaku sendiri.

Diana menarik napas, mengisi dadanya dengan kekuatan di angkasa dan mengembuskan kesesakannya. “Yang kutahu aku tak bisa membuangnya.”

“Ke mana cinta yang dulu kauumbar padaku?” Aku menebak-nebak dari hal kecil. Dari getaran pundaknya. Dari gerak bibirnya. Dari bola matanya yang gelisah. Sungguh aku lelah menerka.

Diana melemparkan pandangannya ke luar jendela. Ia lebih memilih memerhatikan kendaraan yang lalu lalang menebarkan polusi daripada mataku. Bibirnya terjahit benang-benang penjelasan yang kusut belum terurai.

“Aku siap ditebas dengan kata-katamu. Itu lebih baik daripada melihatmu bisu.” Keterdiamannya kahar,force majeur. Aku memang tak mungkin mencegahnya.

“Aku juga tak mengerti dengan perasaanku sendiri.” Ia terdiam. Cukup lama untuk membuatku yang hanya terpusat pada suaranya merasa tuli karena tak mendengar satu suara pun.

“Apa dari awal kamu memang hanya main-main?” Di kedai kopi pinggir jalan ini aku kembali mulai dari nol, kembali ke tempat yang sama ketika kami janji bertemu setelah perjumpaan pertama. Menarik garis kronologis mencari kemungkinan dari hal yang kuyakini sebagai ketidakmungkinan.

Aku masih ingat ketika Diana berjalan memunggungiku. Aku menghitung sampai seratus, tetapi ia tak kunjung menoleh. Saat ia di dalam taksi pun aku masih memandangi tengkuknya. Muncul rasa benciku pada bentuk bumi berupa bola. Di jalan yang begitu lurus ia mulai tenggelam di balik garis cakrawala. Diana tak pernah kembali, bahkan sekadar menghubungi.

Aku ingat betul penyebab semua ini. Urutan ceritanya terpahat di candi otakku menjadi penyesalan abadi. Empat bulan lalu aku mengundang Diana beserta orang tuanya makan malam. Orang tuaku pun sudah datang dari Bandung. Selain merayakan keberhasilanku dipromosikan menjadi manajer finansial, aku ingin melamarnya langsung ke orang tuanya. Namun sebelum aku berangkat, direktur memintaku mendampinginya menghadiri rapat mendadak dengan perusahaan yang menjadi mitra dalam proyek produk baru saat itu. Rapat itu sangat mendesak. Bahkan itu Sabtu sore. Direktur mengancam takkan segan memecatku bila aku menolak meskipun aku baru naik jabatan. Karier dan cinta saling menarik nyawaku, meletakkanku di ambang antara hidup tanpa jiwa atau hidup tanpa raga. Aku menjelaskan semuanya. Orang tuaku dan orang tua Diana memaklumi, kecuali Diana sendiri. Hubungan kami mulai retak. Ia tak pernah tahu aku hendak melamarnya. Datang pula Hari, lelaki tak tahu malu yang berusaha menyusuri labirin menuju hati Diana. Mereka mulai dekat sejak itu.

Aku menyerah. Semua sudah kulakukan untuk membuat Diana kembali padaku. Bila terus seperti ini, pengorbananku berupa perasaan, pikiran, waktu, tenaga, dan uang, investasiku, akan tergerus bunga ekspektasinya yang selangit. Nilai pengorbananku di masa depan pun bisa saja sudah dianggap tak berharga hari ini. Aku pikir-pikir lagi ucapan Robi.

“Mungkin ini konyol, tapi aku percaya. Kau mau semua ini berakhir seperti yang kau inginkan?” Robi menepuk pundakku. “Lihatlah koin dwicitraku. Memang idenya tak orisinal, tetapi ampuh untuk kujadikan pengingat. Coba perhatikan. Kalau kau melihat sisi koin begini, ukirannya seperti nenek yang merengut. Aku merasakan penyesalan dirinya yang tak pernah mengutarakan cinta pada lelaki idaman sampai lelaki itu meninggal. Tapi kalau kau memutar koin ini, ukiran tadi seperti putri yang tersenyum. Bibirmu takkan datar saja saat kau melihat putri ini. Putri yang berhasil mengutarakan cintanya sampai bisa mendapatkan lelaki impiannya mana mungkin bersedih. Putri ini saja bisa mengubah ceritanya. Kau mau juga? Maka ubahlah sudut pandangmu dalam memandangi masalah ini seperti kau memandangi koin ini. Memang tak mudah. Kau bisa mulai dengan mengubah kebiasaanmu. Bahkan hal-hal terlumrah. Mundurlah saat berjalan. Berdirilah saat tidur. Jongkoklah saat kencing. Kau yakin sanggup melakukan semua untuk membuat kisahmu berakhir bahagia? Ubahlah semua. Jungkir balikkan. Semua, Sandoro. Bahkan saat membaca yang biasanya dari paragraf teratas menuju paragraf terbawah, maka sekarang bacalah dari paragraf terbawah menuju paragraf teratas.” Ia memutar-mutarkan koinnya perlahan di garis penglihatanku, menampilkan sosok putri dan nenek bergantian terus-menerus. “Tentukanlah. Kau bisa memilih semua ini berakhir bahagia seperti yang kau inginkan atau berhenti sampai di sini saja.”